Showing posts with label Daily Life. Show all posts
Showing posts with label Daily Life. Show all posts

Monday, July 14, 2008

Bagi-bagi Lagi

Satu hal yang aneh, sejak melahirkan kok produktivitas saya menulis kok cenderung menurun ya? Bawaannya males aja. Padahal banyak banget yang bisa dishare lewat tulisan. Mungkin malesnya gara-gara bingung juga mau yang mana dulu ditulis, soalnya memang punya bayi itu seribu satu cerita sih. Setiap hari ada hal baru yang dipelajari. Apalagi buat keluarga muda seperti saya.
Entah mulai jam berapa pastinya kegiatan harian saya dimulai karena tidak jelas start dan finishnya. Sejak punya bayi, praktis kegiatan khususnya tidur di malam hari amat berkurang, jadi banyak meleknya untuk mengurus bayi. Mulai dari memberikan ASI, mengganti popoknya kalau dia pup atau ngompol di malam hari. Mata hanya terpejam selama bayi tertidur. Saking ngantuk berat dan nggak bisa tidur eh sekalinya tidur sampai nggak terasa lamanya hehehe…tau-tau terbangun lagi karena anak menangis. Biasanya bayi saya mulai gelisah ingin nenen atau pup pada saat subuh. Kira-kira jam 3 pagi mulai gelisah, kadang menolak diberi ASI. Kalau udah begitu, saya mesti menenangkannya sambil menggendong. Dengan mata terkantuk-kantuk, saya jalan mondar-mandir agar dia cepat tidur kembali. Beberapa kali berhasil tapi banyak kali usaha ini juga gagal. Alhasil subuh-subuh begitu, kami berdua malah bermain bersama, entahkah mengajaknya ngobrol atau memainkan sesuatu agar dia tidak menangis lagi. Jadi suasana kamar ramai karena teriakannya padahal di luar masih sepi. Biasanya setelah bosan, dia minta ASI sambil tiduran sampai dia pulas kembali. Masalahnya kadang kebiasaannya ini berlangsung hingga pukul 5 atau 6 pagi, saatnya mata ini harus benar2 terbuka karena mesti menyiapkan diri bekerja. Jadilah kantuk sering terbawa sampai kantor hehe…
Sebelum berangkat kerja, saya memastikan anak cukup minumnya jadi ketika dia saya tinggal bersama pengasuhnya, dia langsung bisa tidur nyenyak. Meskipun selama saya tidak di rumah, dia diberi susu formula paling tidak dalam hati ada sedikit kelegaan bahwa hari itu saya memberinya ASI juga. Sayangnya, kalau diperas ASI keluar sedikit. Rekor saya cuman sampai 80 ml, selebihnya hanya berkisar 20-60 ml. Buat bayi umur 3 bulan sungguh saya sadari itu masih sangat amat kurang. Biarpun tak cukup, asal ASI masuk saya sudah tentram bekerja. Sepulang kerja baru saya ‘balas dendam’ memberikan ASI. Kadang disambut baik tetapi tak jarang dia sudah tidur dan baru bangun malam hari. Kasihan juga rasanya.
Sekarang ini anak saya udah 3 bulan 3 minggu. Dia punya kebiasaan baru yakni mengisap jari-jari tangannya. Ini baru seminggu belakangan terjadi. Biasanya dia merasa gelisah lebih dulu, baru kalau sudah jari jemari masuk mulut, dia isap-isap sampai berbunyi ‘cup-cup-cup’ dan dia terlihat agak tenang. Parahnya kalau dicabut paksa isapan itu, dia bakal marah-marah atau menambah volume tangisnya. Melihat kebiasaan isep jari ini saya dan suami agak kuatir dan kasian juga. Takut lama-lama jadi habit dan bisa merusak jarinya. Dipasang sarung tangan pun, dia masih berusaha mengisap jarinya sampai-sampai kalau kelamaan biasanya dia lalu ingin hoek alias muntah. Karena kasihan, maka suami berinisiatif membelikan kempeng. Waktu saya cobakan, awalnya saya malah tertawa ngelihat mukanya yang innocent itu memakai kempeng, lucu sih. Dia coba adaptasi, memainkan kempengnya ke kanan kiri bahkan mencopotnya, lalu saya pasang lagi begitu seterusnya sampai dia mulai mengenyot si kempeng dengan damainya sampai tertidur.
Ada sih rasa bersalah, kok kayaknya ni anak saya bohongi gitu. Mana bentuknya itu lho, besar nutupin mulutnya yang masih mungil. Dia jadi nggak bisa bicara, sepertinya saya menutup kebebasannya berceloteh atau merengek. Kok egois amat ya rasanya? Ah pokoknya perasaan campur aduk deh. Padahal ini kami lakukan demi dia juga, hehehe..bingung jadi orang tua.
Kebiasaannya yang lain, sekarang dia suka mengepalkan tangan lalu memandangi kepalan itu lama-lama. Dia juga senang melihat gerakan-gerakan tangan saya. Ketika saya menggaruk kepala dia juga tertawa, entahlah apa arti tangan baginya hingga dia menganggapnya lucu. Oya, dia juga sedang suka memainkan ludahnya. Kadang sampai disembur-semburkan keluar, apalagi kalau sedang diajak ngobrol. Sambil mengoceh, kesempatan dia menyembur-nyemburkan ludahnya. Kalau sudah gitu, sambil bermain dengannya, saya siap dengan lap deh.
Begitulah bagi-bagi cerita saya kali ini tentang perkembangan si kecil. Bahagia sekali melihatnya. Saya sudah tak sabar menunggunya bisa tengkurap, duduk, berjalan, hehe…sekarang sih dia sedang usaha memiringkan badan dan sudah berhasil. Hanya saja kebiasaan dia kalau digendong masih dominan menengok ke kiri, susah diajak menoleh ke kanan. Kadang saya kuatir juga tapi biarlah untuk saat ini mungkin saya harus banyak bersabar menunggu tahapan-tahapan perkembangannya, sambil terus melatih dia.

Thursday, June 26, 2008

Oleh-oleh Cuti


Halo, saya kembali! Dua bulan terakhir menjadi bulan yang berasa permen nano-nano. Kabar gembiranya saya sudah melahirkan! Tepatnya tanggal 31 Maret 2008 lalu. Panjang ceritanya, sampai saya sendiri bingung gimana mulainya. Dua bulan terakhir pernuh dengan antusiasme ibu baru, ngurusin anak. Penuh dengan gedubrakan, error dan undo deh. Maklum emak baru lahir juga kan barengan lahirnya si kecil ini. Oya, namanya Valereo Satrianda Tumon. Hehe…mau tau artinya? Valereo ini plesetan dari Valentino Rossi, yup yup pembalap motoGP juara dunia 7 kali itu. Saya dan suami memang fans beratnya apalagi sejak hamil dulu. Trus Satrianda tentunya harapan kiranya anak ini nantinya bisa bersikap, berpikir dan bertindak layaknya ksatria (yang benar lho) pada siapa saja, menjadi ksatrianya Tuhan. Lalu Tumon itu marganya bapaknya, orang Dayak.
Well darimana dulu ya ceritanya. Oke, bagaimana proses kelahiran Eyo (panggilan dari Valereo, mudah di lidah, mudah diingat dan diucapkan bukan? :p)
Saya ambil cuti melahirkan terlalu cepat, karena HPL (perkiraan lahirnya aja tanggal 3 April 2008) saya ambil 10 Maret. Gara-garanya udah gak enerjik lagi dibawa kemana-mana, kerja juga udah gak enak duduk lama maunya bobooook trus hehehe ini sih bawaan emaknya kali ya? Mana sering kena diare lah, maag lah, kontraksi palsu, dll sementara saya ngekos, otomatis jauh dari suami yang lain kota. Makanya suami minta cepat2 aja cuti daripada jadi pikiran. Ya udah karena direstui, maka saya ambil cuti.
Selama cuti, paling di rumah aja. Seminggu belum terasa, jadi orang rumahan kerjaannya di depan komputer chattingan sama teman kantor, atau bobok aja. Ikutan senam hamil secara intensif biar cepetan lahir, udah gak sabar sih kemana-mana membawa si kecil. Makin tua usia kandungan, makin berat kaki melangkah. Pemeriksaan terakhir seminggu sebelum si kecil lahir, dokter bilang so far bagus, tinggal siap-siap aja cuman memang kepalanya belum masuk panggul. Saya juga dianjurkan mengurangi karbohidrat karena bayi beratnya udah 3,2 kg, takut kebesaran nanti malah susah ngeluarinnya (ngejannya). Dokter menganjurkan untuk banyak-banyak senam lagi. Di kelas senam, nanya sana-sini gimana cara dorong kepala bayi biar cepat masuk panggul, kata instrukturnya latihan berdiri-jongkok kira-kira minimal 30 kali sehari. Tapi saya kok masih males ya praktekin di rumah, belum juga ada feeling bakal lahir dalam 1-2 minggu lagi. Yang suliiit banget dilakukan adalah menghentikan asupan karbohidrat. Lha gimana, tiap sore ada aja jajanan yang dipingini. Malem apalagi, jam sembilan ke atas, perut udah krucuk-krucuk pula. Udah diakalin makan buah kayak apel, pir atau rambutan yang banyak kandungan airnya, teteeep aja perut keroncongan. Apa daya, 1-2 lapis roti tawar atau sekedar semangkuk mie rebus cukup mengganjal perut. Kalau habis makan, saya pasti menyesali, aduuh kenapa makan lagi ya? Takut nih besok nambah berat lagi bayinya. Biasanya suami jadi sebel dengan penyesalan ini, karena secara tidak langsung dia merasa bersalah karena mau menyediakan bahan makanan tersebut hehe…Jalan pagi juga jadi rutinitas, meskipun normalnya orang JJP jam-jam 6 pagi, saya sih sebangunnya, biasanya jam 7-8 baru bangun jadilah di bawah terik matahari pagi (jam 7-an aja udah panas) saya ditemani suami jalan-jalan, sambil cari sarapan.
Lama-lama bosen juga di rumah, kok lama ya nggak lahir-lahir padahal perut udah mulai sering kenceng-kenceng, tendangan si kecil di perut udah nohok ulu hati pula, berarti ruang geraknya udah makin sempit, kok belum ada tanda-tanda bakal lahir.
Di akhir bulan tanggal 29 Maret, iseng-iseng saya ngomong sama si kecil, lahirnya dipasin besok tanggal 1 April aja ya Nak, biar bagus tanggal muda, mama juga lahirnya tanggal 1 lho tapi Juli. Kompakan gitu napa? Saking fokusnya pada harapan tanggal 1 April lahir, saya banyak-banyakin latihan berdiri-jongkok tiap hari di rumah, biar kepala si kecil makin turun. Pas hari Minggu tanggal 30 April, udah ada feeling nih anak mau keluar, karena perut udah keras terus bagian bawah udah kerasa kayak mau buka gitu perasaan.Saya nervous tapi happy karena harapan bakal lahir tanggal 1 April kesampaian. Eh, nggak taunya begitu lihat tanggalan, bulan Maret tuh masih sampai 31! Olalala…padahal latihan keras di rumah sudah cukup membuat si kecil semangat turun ke bawah. Aduh…mudah-mudahan bisa tahan sehari lagi, saya menghentikan latihan berdiri-jongkok, takut lahiran malam itu.
Malam tanggal 30 Maret, ada siaran motoGP. Saya nonton sambil deg-deg-an karena berharap Valentino Rossi bisa naik podium lagi setelah setahun lebih nggak dapet jatah juara. What a lucky, malam itu Rossi menang juara II, saya lupa dimana balapannya. Saya girang bukan kepalang, cihui banget lah. Habis GP, saya nonton konser seleb di Indosiar, dasar Ruben Onsu cs bikin saya ketawa ngakak, sampai perut kontraksi. Suami sampai memperingatkan ketawanya jangan keras-keras, kasihan bayinya keguncang-guncang. Dia aman kok, malah ikutan hepi balas saya.
Di malam inilah cerita dimulai.
Pas kebangun dari tidur, tiba-tiba saya ngerasain air ketuban pecah. Sprei basah kuyup, sontak saya bangunkan suami. Dengan sigap tanpa mengucek mata, dia bangun dan lihat jam, jam 01.30 dinihari! Saya pernah bilang dia, kalau ketuban pecah harus segera ke RS. Maka segeralah saya siap-siap ke RS, suami menyambar 2 tas, satu isi baju-baju saya, satu isi baju si kecil. Karena masih dinihari, kami putuskan naik taksi saja. Setelah 10 menit menunggu, taksi datang. Perjalanan cuman 15 menit karena masih sepi. Sampai di RS langsung ke ruang ibu dan anak, suami urus pendaftaran, saya masuk ruang bersalin. Pertama, saya diobservasi. Ditanya sana-sini sambil diperiksa, tensi, respon syaraf, dll. Para suster memastikan saya memang pecah ketuban. Lalu disarankan menunggu hingga kontraksi kalau kontraksi bagus dan pembukaan sempurna maka lahir normal saja. Tetapi kalau ditunggu tidak kontraksi dan tidak pembukaan, maka induksi dan caesar jadi pilihan berikutnya karena pecah ketuban bayi harus dikeluarkan kurang dari 24 atau 12 jam (saya lupa hehehe), sebab riskan terhadap infeksi. Oke lah saya pilih tetap melahirkan normal dengan induksi saja kalau toh nggak ada kontraksi dan pembukaan. Saya disuruh tandatangan pernyataan mau diinduksi atas keinginan sendiri.
Setelah tubuh bagian bawah dibersihkan, cuci perut dan mandi, saya berbaring menunggu kontraksi, tiap setengah jam suster mengecek, sudah kontraksi belum, berapa cm pembukaannya. Eh ditunggu sampai jam 6 pagi belum juga ada kontraksi dan pembukaan baru 1 cm, maka dokter melalui telepon mengintruksikan suster untuk melakukan induksi segera. Lebih dulu jantung bayi diperiksa dengan monitor yang disambungkan ke semacam sabuk yang dilillitkan di perut saya. Kalau bayi bergerak, saya harus pencet tombol yang saya pegang. Pemeriksaan menunjukkan bayi siap diinduksi. Karena pengalaman pertama, saya nggak tau kalau induksi itu ternyata membuat kontraksi buatan, lebih sakit dari kontraksi alami. Itu sudah dikatakan suster sebelumnya, tapi saya belum bisa membayangkan jadi saya iyakan saja.
Jam 7 mulai masuk ruang tindakan, suami tetap setia menemani meski terkantuk-kantuk. Dia memang bertekad menemani, padahal tadinya saya ragu apa dia berani. Saat sarapan pagi saya lahap makan sajian gudek yang disuguhkan, saya pun masih bisa jalan-jalan. Setelah sarapan, saya mulai diinduksi lewat infus, susternya bilang ini obatnya sangaaaat kecil dosisnya, saya sendiri lihat suster itu mengambil obat memang sedikit sekali. Obat lalu disuntikan melalui selang infus yang sudah sejak tadi terpasang di tangan kiri. Tetes demi tetes infus membanjiri selang. Belum ada pengaruh apa-apa, saya masih bisa ngobrol dengan suami, tertawa-tawa dengan kakak yang datang menjenguk. Minum, makan ke kamar mandi, pokoknya hepi deh. Tiap sentengah jam dicek suster, belum ada kontraksi dan pembukaan juga. Suster menaikkan ritme infus, menjadi semakin cepat tetesannya. Saya mulai merasakan mulas sedikit datang pergi, sekitar setengah jam-an mungkin. Masih bisa tertawa-tawa lah. Begitu seterusnya hingga suster menaikan ritme infus menjadi paling cepat. Nah, inilah saatnya. Saya merasakan sakit luar biasa. “Nah, sakit ini yang ditunggu-tunggu bu, tahan ya. Bagus sekali kontraksinya,” kata suster yang dari tadi bergantian mengecek bukaan saya. What?? Bagus? Sakit seperti ini yang ditunggu? Saya senewen dibuatnya, tapi setelah melahirkan baru saya tahu itulah namanya kontraksi (dengan induksi).
Sakitnya seperti orang mau buang air, ingin sekali mengejan tapi belum boleh karena bukaan masih jauh dari 9-10. Padahal satu bukaan bisa sejam aduuuuh masih lama sekali. Tiap ingin mengejan saya udah nggak bisa mempraktekkan teori senam untuk atur napas. Saya bisanya teriak-teriak, lalu diam kalau sakitnya hilang. Padahal baru aja diam, sakitnya datang lagi. Tiap kontraksi, saya selalu menyebut nama Yesus,Yesus! Tapi saya tetap teriak-teriak hehehe….habis sakit beneran sih. Suami sampai berkali-kali menyarankan saya untuk menghemat tenaga buat mengejan nanti. Ada saatnya saya bilang, saya udah nggak kuat lagi. Suami malah marahin saya, nggak boleh seperti itu nanti anaknya dengar, aduh salah lagi. Suami akhirnya menawarkan, apa mau caesar aja. Dalam kesakitan saya berpikir udah tanggung banget, bukaan udah 7 mau operasi, persiapan kamar operasi aja bisa sejam lebih, ah udah lah tanggung harus terus meskipun kesakitan.
Lama-lama saya rasa udah antara langit dan bumi kali, saking sakitnya sambil merintih mata saya menerawang ke atas nggak ada kedip. Enaaak banget rasanya, ringan kayak melayang. Dipanggil suami, saya masih sadar dan nyahut. Dia terus mengajak bicara dan menyemangati, “Ayo tinggal sebentar lagi, jangan nyerah. Bayangin wajahnya Eyo, kayak gimana, ayo!” Berkali-kali suster yang memeriksa pembukaan, saya pegang erat lengannya, “Suster, sakiiit saya pengen ngeden (ngejan).” Eh si suster dengan entengnya, “Ya belum boleh. Nanti kalau udah 10 baru ngejen ya. Sabar ya.” Oooooooh dunia serasa gelap gulita kala dengar si suster bilang sejam lagi, sejam lagi, kok nggak mbukak-mbukak, sampai saya minta suami melihat bukaannya. “Iya Ma, kurang dikiit lagi” Addduuuh berita tak menggembirakan.
Beberapa kali saya panggil juga nama dokternya, saya minta suami menyusulnya. Ah pokoknya kalau ingat masa itu geli sendiri. Semua teori senam nggak saya pakai, malah sibuk sendiri bikin orang lain emosi. Hehe….
Betapa lega ketika suster mengatakan, “Ya udah boleh ngejan. Ngejan aja kalo nggak tahan.” Maka saya gunakan ijin itu untuk nekat mengejan. Berkali-kali tapi kepala si kecil belum nongol. Belakangan saya dikasih tahu suami, suster mengijinkan ngejan meskipun idealnya belum waktunya, karena saya udah nggak tahan lagi, lagipula rambut si kecil sudah kelihatan berarti tinggal nunggu dokter datang untuk membereskan. Akhirnya, dokter diiringi mahasiswa kedokteran lagi praktek masuk. Checking, kata susternya, “Udah dok nggak usah periksa dalam lagi, itu rambutnya (bayi) udah kelihatan kok.” Lantas si suster naik ke atas saya di belakang saya persisnya untuk membantu mengeluarkan si kecil. Saya disuruh mengejan kalau kontraksi datang. Mengejan pun saya salah, waktu senam saya bisa mengejan tanpa suara tapi apa daya kala itu tenggorokan sampai gatal akibat teriak-teriak. “Ayooo dorong lagi, sekali lagi jangan berhenti-jengan berhenti! Kasian anakmu kejepit itu, ayo…dorong lagi,” kata dokter mengetahui saya berhenti mengejan di jalan. Akhirnya dengan bantuan suster yang mendorong dari atas saya tadi, pada pukul 13.15 WIB lahirlah si kecil Eyo dengan berat 3,035 kg panjang 48 cm. Dia meluncur bersama air ketuban yang hangat rasanya. Seiring akan meluncurnya si kecil, dokter menggunting perineum saya, saya jelas mendengar “krek-krek”.
Plong rasanya, sama sekali tidak ada lagi sakit itu. Bener kata orang yang pernah melahirkan, sakitnya luar biasa tetapi begitu keluar, plong seperti tak ada apa-apa. Si kecil ditangkap oleh dokter dan diserahkan bidan untuk dibersihkan. Seorang lelaki kecil menggeliat di box penghangat, kulitnya merah, matanya sipit memandangi ke arah saya yang masih tergolek. Saya melambaikan tangan, “Halo Eyo…”. Dokternya nanya, lho udah siapin nama ya? Iya, daripada pas di RS kudu mikir, mending siapin dari awal buat cowok dan cewek, tinggal pilih. Selang sesaat, dokter mengeluarkan ari-ari dan minta saya mengejan sedikit baru setelah itu ia menjahit bagian yang digunting tadi. Meskipun udah lega, menjahitnya lumayan terasa juga clekit-clekit. Sekitar tiga jam saya di ruang tindakan, baru dipindah jam 4 sore. Malamnya saya susah tidur, masih kebayang-bayang rasa sakitnya, seluruh badan jadi lemes.
Selama 4 hari di RS, sakit jahitan saya belum hilang juga, kata susternya sih gara-gara saya malas jalan-jalan. Lha gimana mau jalan, sakitnya sampai bikin keringetan dan kepala putar-putar? Ngliat ibu-ibu lain udah tegak berdiri sekalipun masih mringis-mringis nahan sakit, saya iri juga. Cuman rasa nyeri yang tak tertahankan bikin saya malas jalan, makanya tambah sakit karena kata suster, daerah perineum (antara alat kelamin wanita dan anus yang digunting itu) syarafnya banyak, jadi kalau diam darah tidak banyak mengalir lancar itu yang bikin nyeri terus. Tapi, malas mengalahkan segalanya.
Hari-hari di RS diwarnai dengan rasa bahagia, menengok anak di ruang baby, melihat wajahnya yang lucu sedang tidur aaah dahaga yang terpuaskan. Sayang, pada hari ketika seharusnya kami pulang bersama, kami harus merelakan Eyo tinggal di RS karena kena kuning sehingga harus disinar biru untuk menurunkan kadar kuning dalam tubuhnya. Kasihan melihatnya ditinggal sendiri, belum lagi ditambah Eyo nggak mau minum susu botol (ASI saya belum keluar) dan muntah, aduh tambah sedih hati ini. Akhirnya saya dan suami pulang duluan. Rasanya aneh pulang tanpa anak, tasnya si kecil juga ikut dibawa pulang, tetangga bertanya-tanya ada apa?
Seminggu lewat, Eyo belum juga bisa dibawa pulang. Diagnosis dokter bilang ada sedikit pendarahan ringan di selaput otaknya. Apa lagi ini?? Saya makin stres saja, sampai nyeri di jahitan makin menjadi. Tapi yang melegakan, dokter bilang tidak berbahaya, tubuh si kecil bisa menyerap darah akibat pendarahan itu dengan sendirinya seiring pertumbuhannya nanti.
Setiap pagi dan sore, saya coba peras ASI demi kesembuhan Eyo dan mengirimkannya ke RS. Berapapun dapatnya, karena ASI masih sangat kurang. Pernah suatu hari, saya hanya bisa memeras ASI sebanyak setengah sendok teh saja. Karena saya pikir ASI awal-awal masih mengandung kolostrum, saya nekat berikan pada Eyo. Suster jaganya sampai terheran-heran. Baru pada hari-hari selanjutnya, lumayan perasan ASI bisa nambah yah 20ml, lalau 40ml. Rindu rasanya bisa mencapai 60 atau 80ml saja. Karena masih suka muntah, Eyo harus diinfus dan karena tenaga hisapnya terhadap botol susu masih lemah dokter terpaksa memasang sonde (selang lewat hidung). Pedih rasanya melihat Eyo dipasangi selang-selang itu, beberapa kali saya melihatnya diambil sampel darahnya, Eyo menangis keras-keras, hati saya hancur. Oh begini ya rasanya ikatan orang tua dan anak….Sambil berjalan masih pincang-pincang, saya menengok Eyo pagi dan sore. Bukannya pada iba melihat saya pincang-pincang pasca melahirkan normal, malah sempat pakai kursi roda lagi gara-gara nggak kuat jalan, suster-suster di sana malah senyum agak sinis, “Normal kok masih pakai kursi roda? Harusnya sembuh lebih cepat dari operasi lho.” Belakangan, dokter menyatakan saya kurang gizi, nggak banyak makan protein, alhasil lukanya nggak kering-kering. Yah, gimana mau makan enak kalau inget anak masih berjuang di RS sendirian? Tapi sejak itu, saya genjot makan protein, ikan, ayam, telor, tempe, susu protein tinggi, semua saya makan sampai saya gatal-gatal.
Total dua minggu Eyo dirawat di RS, setelah menemui dokter anak dan dokter syaraf serta melihat hasil CT-Scan, mereka memastikan Eyo boleh pulang. Beratnya yang sempat turun menjadi 2,7 kg waktu itu sudah naik lagi jadi 3,00 kg. Eyo sudah tidak muntah lagi dan mau minum susu formula. Puji Tuhan! Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, sebab pada hari Eyo pulang, saya sudah bisa berjalan tegak dan rasa nyeri sudah hilang! Ajaib!
Hari-hari pertama bersama Eyo di rumah, penuh dengan kepanikan. Tangisannya membuat kalang kabut, kalau pipis atau BAB masih bisa tahu lalu ganti popok, tapi kalau nangisnya makin menjadi, saya dan suami bingung dibuatnya. Apalagi ada 6 jenis obat yang harus diberikan pasca perawatannya di RS. Paling stres kalau harus meminumkan, Eyo masih terlalu kecil untuk dibombardir obat-obatan kimia. Maka kami putuskan mencari opini kedua, mendatangi dokter anak lain. Dari dokter anak itu, kami sedikit lega, karena pendarahan yang dimaksudkan tidak berbahaya, hanya akibat persalinan dulu. Mungkin saya mengejan terlalu awal sebelum waktunya sehingga kepalanya seperti membentur ‘pintu keluar’nya. Dokter tidak memberikan obat sama sekali, hanya menganjurkan saya memberi ASI terus, malah saya yang diberi obat agar ASI lancar keluarnya. Saya pikir, dokter ini bijak juga, mengingat anak saya masih sangat kecil. Dari situ saya hentikan asupan obat-obat kimia dari RS.
Kini, Eyo sudah 2 bulan lebih 17 hari. Bulan depan usia 3 bulan. Eyo sudah bisa ngoceh kalau diajak ngobrol. Sudah mulai miring-miring mencoba tengkurap. Susunya sambung, ASI dan formula. Kami pindah dari Jogja ke Salatiga demi pekerjaan saya.
Anak adalah sebuah kepercayaan. Padanya, ada tantangan dan tanggung jawab. Sekarang, saya dan suami masih terus belajar, belajar mengerti bahasa tangisnya, belajar sabar, belajar bersyukur meskipun secara fisik sedikit melelahkan, tetapi melihat bening kedua matanya, semua terbasuh oleh bahagia.
Saya baru sadar mengapa Tuhan menciptakan manusia sebagai bayi kecil pada awalnya untuk dititipkan, bukan sosok orang dewasa. Karena bayi itu sebenarnya penolong bagi orang tuanya. Ia menolong kita menjadi bahagia, memberi semangat baru setiap harinya.
Valereo…terima kasih ya sudah ada di tengah-tengah kami. Karena kamu, mama bisa sembuh dari sakit, karena kamu juga mama semangat setiap hari untuk bekerja. Tetap sehat dan ceria ya…..
Terima kasih buat teman-teman, rekan kerja dan keluarga yang telah memberi dukungan dan doa pada kami hingga kami bisa melewati masa-masa yang berasa nano-nano tadi. We love you and will pray for you too :)

Sunday, August 26, 2007

2 Skala Richter Pasca Pernikahan


Bukannya ingin melebih-lebihkan keadaan, hingga saya pilih judul di atas. Saya cuma sekedar pengen menggambarkan suasana biduk rumah tangga saya setelah hampir 2 bulan ini berjalan. Boleh dikata sebulan terakhir, saya tengah dilanda euforia pasca pernikahan. Semuanya meledak-ledak. Mulai dari senang, sedih, bete, marah semua ada. Pokoknya rasanya seperti makan permen nano-nano. Pada seminggu setelah hari H, pasti semua mantan pengantin merasakan surga dunia yang tak ingin mereka tinggalkan. Itu juga yang saya rasakan. Masa bulan semanis madu berdua, semua manis dan indah. sedih rasanya kalau harus mengakhiri masa-masa itu. Tapi apa boleh buat, kami harus segera ‘bangun’ dari tidur. Masa cuti cuma seminggu dan kami harus bekerja lagi. Sedih rasanya meninggalkan masa bulan madu itu.
Saya kembali bekerja di Salatiga dan suami saya bekerja di Yogya. Kami ‘terpaksa’ berjauhan karena hal ini telah menjadi kesepakatan sebelum menikah bahwa untuk setahun ke depan, saya akan tetap bekerja di Salatiga dulu hingga suami saya mendapatkan kejelasan mengenai status pekerjaannya. Kami menganggap pekerjaan saya lebih dapat dijamin keberlangsungannya dibandingkan pekerjaan suami saya yang hampir habis masa kontraknya. Waktu itu sih, saya enteng saja menyetujuinya (toh itu keinginan saya yang didukung oleh suami). Hanya Sabtu dan Minggu saja kami bertemu dan menghabiskan sepanjang hari dengan berekreasi, ya jalan-jalan, ya di kamar (hehe...).
Tetapi mendadak terjadi perubahan pada diri saya yang saya sendiri tidak pahami dari mana datangnya. Bukan perubahan fisik, tetapi perubahan suasana hati. Tiba-tiba saja, saya menjadi luar biasa melo dan cengeng seperti anak SD yang enggan ditinggal ibunya ketika sekolah. Padahal selama 8 tahun berpacaran dengan suami saya, saya tahu benar cengeng bukan saya banget gitu lho. Bahkan hal-hal yang dulu saya anggap biasa saja bahkan tidak terpikirkan, sekarang sangat penting untuk dibahas (baca : diperdebatkan). Misalnya saja, kalau dia terpaksa lembur di kantor atau dia telat bersms. Aduh, hari-hari hanya saya isi dengan kemarahan yang tidak kenal kompromi. Keinginan untuk didengar dan diperhatikan saja. Seringkali, tiap hari dia gelisah apa lagi yang akan menjadi ‘bahan peledak’ saya? Saya cukup prihatin dengan kondisi emosi saya yang sungguh tidak stabil sebulan belakangan karena saya sendiri merasa lelah yang luar biasa.
Jarak yang dulunya saya anggap tidak menjadi masalah, kini sangat berarti. Setiap hari saya lewatkan begitu saja kebersamaan dengannya di rumah. Saya lewatkan peran saya sebagai istrinya. Sesuatu yang menjadi alasan mengapa saya ingin menikah. Saya tidak sekedar ingin menjadi istri semata, tetapi ingin memainkan peran itu dengan baik. Kini, demi periuk nasi (atau keegosian saya?), kami harus berpisah, sekalipun jumpa tiap weekend tapi hal ini saya akui cukup membuat saya senewen selain mungkin pengaruh perubahan hormon kewanitaan saya kali ya? Maka saya memakai hal-hal sederhana yang tadinya biasa saja menjadi umpan untuk menyalurkan kesenewenan saya tadi.
Dalam kamus para pria rasanya hanya ada kelugasan, sesuatu yang tidak di awang-awang, sesuatu yang harus dikatakan, harus diterangkan, bukan diumpakan. Seperti suami saya. Setiap kali bertengkar karena hal-hal yang sepele tadi, dia selalu bertanya, “Lalu, mama pengen papa seperti apa?” Aduh, itu pertanyaan tabu buat saya. Karena saya berpikir, kalau saya bilang papa harus A, B, C maka apa yang dia lakukan semata supaya saya tidak marah lagi. Bukan lagi dilakukan dari kesadarannya. (Lagi-lagi) suami saya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Hal menarik lainnya yang membuat saya lebih kenal mantan pacar saya ini adalah, kebiasaan dia menguasai sebuah kotak bernama televisi. Benar yang pernah dirilis oleh banyak buku psikologi, dalam hal penguasa remote, lelaki lah rajanya. Setiap kali menonton bersama, dia mempersilakan saya menonton kesukaan saya misalnya acara Insert di TransTV (partisipan gosip club member). Tapi belum selesai satu berita, ia sudah ambil alih remote TV dan ia mulai pencet sana-sini tanpa arah lalu kembali lagi ke mata acara yang saya sukai tadi (basi lah kabarnya udah lewat). Dia baru berhenti kalau saya sudah meliriknya atau dia lihat berita olahraga. Kebiasaan dia menggunakan kipas angin atau fan ketika tidur, juga sempat mengganggu saya. Saya paling anti dengan fan yang secara langsung mengenai tubuh saya, bisa masuk angin. Tapi suami saya sangat menikmati hembusan putaran angin itu kala tidur. Ketika saya tanya kenapa harus pakai fan meskipun udara dingin. Jawabnya, “Aku suka dengar suara fan ketika tidur.” Alasan ini sungguh tidak ilmiah dan saya dibuat tertawa ngakak. Alhasil kalau tidur, saya selalu pakai selimut dari ujung leher hingga kaki, sedangkan dia justru topless bagaimanapun dinginnya J
Belum lagi, kebiasaan memencet odol (pasta gigi). Bagi saya, memencet odol di atas sikat gigi tentu sudah baku dan jamak. Tapi tidak dengan suami saya, saya terkejut ketika dia memencet odol langsung ke mulutnya baru dia gosok gigi. Awalnya saya marah-marah karena berarti tube pasta gigi sudah tidak higienis lagi, tahu apa reaksinya? Dia cuma tertawa, “Hehe....” Aneh ya?
Makanya saya umpamakan hiruk pikuk yang terjadi selama 2 bulan pernikahan saya sebagai getaran-getaran gempa yang amat kecil skalanya. Saking kecilnya, kadang saya tak sadari bahwa sebab musababnya harusnya dibicarakan, supaya yang kecil itu nantinya tidak menjadi besar dan berpengaruh serius bagi rumah tangga saya kelak. Salah satunya, getaran ‘gempa’ yang diakibatkan jetleg kebiasaan berdua yang amat sangat kontras ditambah kondisi emosional suami istri yang tidak sama stabilnya.
Hingga kini, saya masih terus belajar menyesuaikan diri. Saya pikir begitu juga dengan suami saya. Bagaimanapun emosinya saya di kala tertentu, saya amat menyayanginya, terutama kalau ingat senyumnya. Hihi...cute seperti anak kecil. So, kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya ya. Doakan kami.

Wednesday, July 11, 2007

Sindroma

(Sebenarnya tulisan ini akan saya posting jauh hari sebelum tanggal pernikahan saya, 1 Juli kemarin, tetapi karena nggak sempat, baru dua minggu setelahnya deh saya post, mudah-mudahan tetep relevan)

Kata orang, menjelang hari pernikahan, ada saja ‘ujian’ yang bakal dihadapi oleh calon mempelai. Mulai dari godaan dari mantan-mantan, rasa sebal, rasa jealous pada pasangan, dll. Dulu sih aku nggak terlalu percaya, tergantung orangnya sih, batinku. Eh...ternyata hal itu menimpaku juga! Hari pernikahanku tinggal dihitung dengan jari, ya sekitar 10 hari menjelang hari istimewa itu. Aku dicekam perasaan tak menentu. Biasanya sih rasa itu muncul sepulang kerja. Kebetulan pasanganku juga bekerja tapi di lain kota (jadi long distance nich ceritanya, meskipun kota dimana aku bekerja cuma 3 jam dengan bus dari kota tempat pasanganku bekerja). Pada hari-hari biasa, selama bekerja kami jarang berkirim sms, itu sudah hal biasa bagiku, paling pulang kerja kami bertelepon ria. Eh, nggak tahu kenapa hari-hari belakangan ini aku sensitif banget. Nggak disms seharian aja udah gondok banget, bukan itu saja. Pikiranku lalu bikin-bikin opini sendiri. Jangan-jangan dia udah nggak perhatian lagi, jangan-jangan dia keasyikan dengan teman-temannya di kantor jadi lupa aku. Kalau sudah begitu, rasa sebal kubawa waktu dia meneleponku. Bukannya kata-kata sayang terluncur, eh malah menyelidiki kenapa nggak sms seharian ini, dsb2 yang berakhir dengan meledaknya emosiku padanya. Kalau sudah begini, dia biasanya minta maaf, dan aku? Aku melulu merasa benar :-p (padahal dalam hati aku juga bertanya-tanya aku ini kenapa, kok segitunya?)
Terus ada lagi, suatu hari dia memutuskan menjual barang miliknya. Sebelumnya, aku tidak pernah merasa keberatan kalau dia mau menjual barang yang dia beli sendiri dari hasil keringatnya, aku merasa itu haknya. Asal dia memberitahuku. Tapi kali ini lain. Begitu aku tahu dia menjualnya, aku naik pitam. Aku bilang kepadanya kalau aku merasa tidak ada artinya. “Kalau kamu bisa memutuskan segala sesuatu tanpa meminta pertimbanganku, silakan saja. Berarti lain kali kalau aku mau jual kalung kesayanganku untuk biaya tambahan bulanan, tanpa pertimbanganmu, itu berarti sah-sah saja!,” kataku geram. Lagi-lagi, setelah berargumen yang berakhir dengan derai air mata, dia pun (lagi-lagi) mengalah, meminta maaf padaku. Dan aku? Hehe...yup betul! Merasa benar.
Aku juga tiba-tiba melarangnya begadang dan memintanya untuk tinggal di rumah saja sepulang kerja. Padahal aku tahu, sehari-hari dia bukan tipe orang yang bisa duduk diam di rumah sepulang kerja. Biasanya dia nongkrong di warung dekat rumah dan ngobrol-ngobrol sampai kantuk menyerang, baru dia pulang tidur. Biasanya aku bisa menerima kebiasaan ini, tapi kali ini tidak. Aku betul-betul mengultimatum dia untuk tidak melakukannya lagi. Bahkan parahnya aku melarangnya ikut ronda! Padahal tahu sendiri, kalau di kampung, ini suatu kewajiban bagi para bapak dan pemuda. Lagi-lagi argumentasi melalui telepon selalu berakhir dengan ‘kemenanganku’ yang lalu kurevisi setelah beberapa saat dia menutup teleponnya.
Kalau dia tanya,”Ada apa denganku?” aku pun tidak yakin bisa menjawab dengan benar. Karena aku betul-betul tidak tahu aku ini kenapa. Apa mungkin aku sudah terserang sindrom pranikah itu? Lalu mengapa semua yang mulanya biasa-biasa saja, menjadi sesuatu yang serius dan harus dibicarakan? Bahkan sebuah harga mati bagiku yang dia tak boleh menawarnya.
Aku pun menjadi letih karena tekanan emosional yang tidak menentu ini. Tidak ada seorang pun yang bisa kuajak bicara dan mau memahami aku. Maka kuputuskan untuk merenung sendirian. Aku menelisik, kalau memang ini sindrom, mengapa hal-hal tadi begitu mudahnya memicu pertengkaran kami menjelang hari H ini. Analisis awalku adalah, bahwa masalah-masalah yang ‘sepele’ itu nyatanya tidak betul-betul bisa dianggap ringan. Dulu saja aku hanya menganggap lalu, mestinya aku menyatakan keberatan atau ketidaksetujuanku sejak dulu. Namun semua kuendapkan dan tanpa kusadari endapan-endapan itulah yang keluar manakala emosiku meledak. Misalnya saja, kebiasaan kami tidak bersms sepanjang bekerja, sebenarnya aku tidak menyukai habit ini. Aku ingin dia mengirim kabar sedang apa begitu pula aku ingin demikian padanya. Tetapi karena aku pikir itu tak jadi soal dan terutama aku gengsi memulainya, ya sudah kuanggap hal itu bisa dikompromikan. Lalu, kebiasaan dia nongkrong di warung dekat rumah, aku sebenarnya tidak suka kalau dia setiap malam melakukannya. Tetapi sekali lagi aku melihat apa urgentnya hal itu dibahas, karena toh selama ini kami berjauhan kota. Terus kebiasaan dia memutuskan segala sesuatu sendiri, dalam hatiku yang terdalam, aku merasa tersinggung, terhina dan merasa diabaikan. Tapi aku coba redam saja isu ini karena aku merasa kami masih baik-baik saja berjalan bersama.
Rupanya harapanku untuk mewujudkan diam itu emas berbuah mengecewakan. Aku selalu mengharapkan lelaki bisa membaca pikiran wanita, apa yang dimaui wanita tanpa kita harus mengatakannya secara langsung. Ternyata itu SALAH BESAR! Lelaki tidak bisa melakukannya. Wanitalah yang harus mengucapkannya (kasihan wanita yang gengsinya tinggi seperti aku). Lelaki hanya bisa membaca bahwa setelah berargumentasi dan bertengkar hebat dan berakhir ‘damai’ maka wanita akan segera melupakan akar masalahnya. Semua tampak kembali normal dan baik-baik saja. Padahal kebiasaan menyimpan akar masalah yang tidak tuntas tercerabut itu akan meninggalkan bekas dalam hati wanita dan seperti yang kualami, pada saat-saat ‘genting’, akar itulah yang menceruat ke permukaan. Si pria pun terbengong-bengong, “Kok aneh, kebiasaan ini kan sudah lama kulakukan, mengapa baru sekarang marah-marah?”.
Jadi begitulah rupanya, ada sejarah yang berkontrbusi besar memunculkan sindrom pranikah itu (minimal dalam kasusku). Sedangkan penyebab mengapa emosi-emosi itu meledak menjelang hari H, mungkin karena setelah hari H, aku merasa tidak bisa lagi semaunya meninggalkannya karena kemauanku tidak dituruti, begitupun sebaliknya. Pernikahan adalah sebuah komitmen seumur hidup, apapun yang terjadi tidak boleh ada kata berpisah karena tidak cocok, itu yang dijunjung tinggi agama yang kuanut. So, para wanita...mungkin salah kita juga kalau suka gengsi lalu pura-pura fine-fine saja melihat kebiasaan pasangan yang tidak kita sukai. Speak up! Jangan disimpan seperti aku, mereka pasti mendengar (at least beberapa menit) lalu syukur-syukur dia mau memperbaiki, kalau tidak, ingatkan saja terus. And...hey Men! Treating us like a lady all the time is not enough, listen to us and please give us some spaces in your mind to be considered. Okey??
Dan sekarang tinggal 9 hari lagi. Aku tidak sabar menanti apa yang akan terjadi berikutnya. Tunggu di sekuel selanjutnya ya....

Thursday, March 22, 2007

Phase of My Life (Part 1)

Akhirnya masa ini datang juga. Saya harus tunduk pada waktu dan harapan. Saya harus puas melepas 28 tahun bersama ego dan kesenangan. Saya segera menjadi dua, tetapi satu. Saya tidak ingin menyia-nyiakan masa yang tinggal 3 bulan ini! Saya kembali memutar ulang kaset memori saya.
Kala saya TK, saya punya 2 orang sobat kental namanya Tari dan Lusi. Saking akrabnya kami kemana-mana bertiga. Sampai-sampai kami dijuluki DeTaLu girls. Di antara kami bertiga, sayalah paling suka molor bangunnya. Bisa dijamin ketika dua teman karib saya itu menghampiri untuk berangkat sekolah, saya masih tidur. Akhirnya mereka menunggui saya, lebih sering mereka akhirnya berangkat duluan.
Kala saya masih SD, saya adalah anak yang sangat cengeng. Hobinya menangis kalau ditinggalkan ibu yang senantiasa menungguiku di luar kelas. Apalagi kalau telat dijemput dari sekolah. Aduh, aku bisa menangis meraung-raung. Kebiasaan itu tidak surut meskipun dalam seminggu aku bisa lebih dari 2 kali menangis ketika bapak atau ibu telat menjemput. Ibu guruku sepertinya mahfum, paling-paling tugasnya menemaniku sampai jemputan datang.
Pernah suatu ketika, karena belum dijemput, aku nekat mengikuti seorang teman laki-lakiku yang kebetulan rumahnya dekat dengan rumahku. Namanya Bambang. “Mbang, aku ikut kamu,” ujarku mantap. Meski Bambang bengong sebentar dia lalu menjawab, “Aku mau ke rumah nenekku. Aku nggak dijemput. Jalan kaki.” Dan jawabku mungkin membuatnya sebal, “Iya, aku ikut jalan kaki.” Saya berjalan berpuluh kilo hingga sampai di rumah nenek Bambang dan dimarahi. Lalu mereka mengantar saya pulang.
Waktu itu, saya paling suka dijemput bapak atau ibu lalu kami mampir ke warung atau toko, makan siang atau mengantar ibu belanja. Oya, pada masa SD inilah, saya sudah mendapat menstruasi pertama, tepatnya di kelas 4 SD! Bisa dibayangkan betapa paniknya saya. Peristiwa ini juga sempat membuat saya stress jadi saya berubah seperti orang bingung. Saya paling sebal kalau ada teman laki-laki yang naksir saya, bahkan melirik saya, saya bisa naik pitam. Saya sempat dibawa ke psikiater dan sang ahli mengatakan itu karena perubahan hormonal saja. Leganya…..
Ketika SMP, penampilan abadi saya sejak TK hingga SD terus saya bawa. Rambut panjang dikepang kuda plus poni di depan. Saya ikut ekstra kurikuler baris berbaris dan menempati sab ke dua dari depan. Lumayan kan tinggi saya. Selain itu saya ikut ekstra musik, pegang suling  Di SMP saya ikut bermacam lomba, selain baris berbaris juga lomba ensemble musik. Oya, saya mulai bergabung dengan kegiatan organisasi juga, salah satunya GEMA. Itu adalah wadah para pelajar SMP & SMU di Yogya yang hobi menulis. Tiap minggu, kami disediakan 1 halaman khusus di koran lokal namanya BERNAS yang harus digarap bersama-sama. Saya tidak punya pacar dan masih takut dengan cowok. Pernah, seorang teman cowok dari lain kelas naksir dan ingin berkenalan. Saat istirahat, itu cowok mendatangi saya dan duduk di samping saya. Tahu apa yang saya perbuat? Begitu dia duduk, saya lari tunggang langgang! Not even a word at all. Teman-teman mentertawakan saya. Oya, kebiasaan buruk saya, datang terlambat  Pasti tiap pagi saya masuk kelas tepat pukul 7, tidak pernah mengerjakan PR apalagi kalau matematika. Jadi begitu sampai kelas tergopoh-gopoh, saya lalu merepotkan teman sebangku namanya Lita Andini. Saya pinjam PR dia, hehe…. Lita sering saya buat marah. Dimana ya dia sekarang? Satu hal yang paling saya sebal adalah olahraga khususnya senam. Kenapa? Karena saya paling tidak bisa salto ke belakang. Saya selalu stucked sampai berdiri di atas kepala saja dan sulit untuk menjungkirkan badan ke belakang dalam keadaan seperti itu. Saat ujian akhir, salah satu materi senam yang harus lolos adalah salto ke belakang itu. Semua teman-teman saya berhasil melakukannya, sedangkan saya harus diberi jam tambahan oleh guru olahraga. Jadi ketika teman-teman sudah asyik menikmati jajanan di kantin setelah ujian itu, saya masih jungkir jempalitan di ruang olahraga! Tahu apa hasilnya?
Guru saya bertanya , “Kamu ikut ekskul apa sih?”
“ Musik.”
“Pegang apa di musik?”
“Suling, pak.”
“Oh, pantesan kamu cuma bisa lurus berdiri di atas kepala dan nggak bisa berguling ke belakang.”
“Sialan,” umpat saya.
Oya, di kelas 3 SMP rekor saya pecah. Apa itu? Memotong rambut! Ya, rambut panjang yang sudah dipelihara sejak lahir, TK, SD sampai SMP saya putuskan untuk di-po-tong.
Masa SMA. Ini adalah masa saya paling bandel, bebal dan keras kepala (yang terakhir ini sampai sekarang masih hehe…). Keaktifan saya di organisasi semakin banyak. Selain masih tekun di GEMA -karena GEMA itulah saya jadi sedikit beken karena dikenal teman-teman suka nulis di koran BERNAS- maka saya dipercaya mengelola mading sekolah, saya bergabung dengan OSIS, organisasi keagamaan seperti PSK (Persekutuan Siswa Kristen), menggelar event rohani seperti natal dan paskah di sekolah maupun bersama sekolah lainnya. Saya masih juga tidak punya pacar. Catatan : saya tidak lagi ikut baris berbaris karena di masa SMA, justru saya paling pendek. Hehe…Saya sudah mulai suka melirik cowok. Kriterianya, tinggi, suka main basket, bergaya pemimpin, aktivis di sekolah, bisa musik. Dan itu semua ada di Ketua OSIS!! Haha…tapi ya kami beda prinsip dan itu saya pegang teguh daripada nantinya malah kepentok (sok ke depan banget pikirannya yak..).Anehnya, saya tetap tidak suka cowok (terutama yang nggak saya sukai) naksir saya. Beberapa kali teman cowok bertandang ke rumah, saya cuekin. Bahkan ada yang datang baru parkir motor, saya sudah wanti-wanti ke ibu untuk bilang saya nggak ada. Padahal saya sembunyi di kamar. Ibu selalu berbohong untuk ‘menyelamatkan’ saya. Dia hanya tertawa melihat ini.
Saya juga suka pulang larut malam. Saya kan hobi banget nonton konser musik di mana-mana. Pernah suatu kali, saya nggak pamit nonton konser sama dua teman saya. Lokasi konser lumayan dekat tapi kalau jalan kaki udah telat. Akhirnya kami naik becak. Sialnya kami, becak diserempet motor berkecepatan tinggi dari sebelah kanan dan tuiiing si becak pun bermanuver entah bagaimana bentuknya tahu-tahu saya udah ada di posisi paling bawah tertindih 2 teman saya itu. Becaknya jadi penyok dan saya pun memar-memar. Tapi kami masih juga bersikeras nonton konser hingga larut malam dan saya kena marah ibu ketika sampai rumah.
Saya berjanji pada ibu tidak lagi pulang malam. Tapi janji itu tidak kekal, cuma bertahan 2 minggu. Setelah itu kumat lagi. Kali ini karena keasyikan dengan hobi menulis di GEMA. Biasanya hari Jumat-Sabtu, saya gunakan di markas GEMA kongkow-kongkow dengan teman-teman setelah seharian mengerjakan halaman khusus pelajar itu dan saya suka lupa waktu. Tak jarang saya masih pakai seragam sekolah ketika pulang dari markas sekitar jam 9 malam. Biasanya saya mengendap-endap supaya tidak ketauan ibu. Tapi pernah ketika mengendap-endap eh nggak taunya mereka sedang berkumpul bersama di ruang keluarga, lagi berdoa! (doain saya yang bandel ini). Merasa berdosa sekali saya. Yang bikin berang orang tua ketika satu malam saya pulang sudah hampir jam 12 malam! Saya keasyikan meliput acara bersama artis ibukota kala itu. Berjalan di gang menuju rumah ternyata sudah dijaga oleh para peronda. Aduh… muka saya mau ditaruh dimana? Tatapan mereka sangat sadis seakan menyimpulkan saya yang tidak-tidak. Aduh…maaf bapak dan ibu….
Kebandelan saya yang bertubi-tubi dan tak bisa dikendalikan itu akhirnya terbalas. Masa menjadi mahasiswa. Saya harus memutuskan menerima kenyataan untuk ‘dijauhkan’ dari orang-orang terkasih. Pasalnya saya diterima melalui jalur non-tes di universitas negeri di Solo. Memang kota ini lumayan dekat dengan Yogya tapi rasanya berat meninggalkan keluarga, meskipun akhirnya setiap minggu sekali saya pulang juga. Awal-awal menjadi perantau di kota Solo sangat menggelikan kalau diingat-ingat. Kebiasaan saya waktu itu adalah terserang sindrom jam 5 sore. Apakah itu? Maklum baru sekali ini jadi anak kos dan jauh dari ayah-ibu. Jadi kata orang Jawa “mbok-mboken”. Setiap menjelang jam 5 sore, saya selalu menangis berurai-urai air mata. Saya gelisah dan takut. Untuk menghibur diri, saya pergi ke rumah teman di kos sebelah. Apa yang terjadi? Ternyata teman saya itu (yang juga baru pertama kali ngekos) juga sedang menangis! Haha…jadilah kami bertangis-tangisan di kamarnya. Begitulah setiap sore hampir selama 3 bulan pertama di Solo, saya selalu bertandang ke kos teman saya itu. Akhirnya kami berdua nggak jadi nangis bersama tetapi berbincang-bincang dan ini cukup lumayan membantu kami melupakan sejenak perasaan melo itu.
Di Solo kegiatan organisasi saya mulai terpangkas lambat laun. Saya merasa iklimnya beda jauh dengan Yogya, cenderung bikin malas melakukan apapun. Hanya saya masih aktif di PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) di tingkat fakultas maupun universitas. Saya punya 3 teman karib yang sama-sama aktif di PMK. Saking akrabnya, kami memberi julukan geng kami Empat Menguak Takdir (plesetan dari julukan bagi Sutan takdir Alisjabana cs “Tiga Menguak Takdir). Di fakultas, saya tidak terlalu menonjol. Tadinya ikutan kegiatan KineKlub bagi penggemar film-film tapi berhenti karena malas ikut kegiatan tambahannya semacam diskusi dan panitia-panitia gitu. Saya cuma senang nontonnya doang. Di masa inilah, pada semester 3, akhirnya saya tunduk pada panah asmara. Saya ketemu cowok dan memutuskan berpacaran. Rupanya cowok itu datang tepat waktunya. Karena selang sebulan saya pacaran, saya harus kehilangan ibunda saya terkasih karena penyakit jantungnya (kalau ingat kebandelan saya di masa lalu, saya sering menyesal mungkinkah saya yang menyebabkan penyakit jantung ibu kambuh lagi?). Saya betul-betul kehilangan motivasi dan pegangan. Dunia rasanya gelap, rasa melo yang sudah terkubur jauh kembali muncul. Sejak kepergiannya, saya suka menyendiri. Kemana pun. Tetapi kekasih saya itu sangat pengertian dan setia. Dia tidak suka menggurui. Dia hanya memberikan sebuah buku tentang bagaimana menyikapi kehilangan seseorang. Rupanya dia juga membacanya ketika harus kehilangan ayah-ibunya dalam waktu berdekatan. Begitulah, Tuhan selalu tepat mendatangkan pertolongan. Tepat maksudnya dan tepat waktu-Nya.
Kuliah saya cenderung mulus sampai akhirnya lulus tahun 2002 sebagai sarjana sosial. Usai kuliah, saya bekerja di sebuah dealer motor di Yogya dan hanya selang 3 bulan setelah bekerja itu saya mendapat pekerjaan yang lebih baik di kota Salatiga. Kini saya masih di Salatiga, bekerja sebagai Asisten Dirlak di sebuah LSM berbasis gereja. Saya masih berpacaran dengan kekasih saya yang dulu. Tujuh tahun sudah kami menjalani masa pacaran dan bila Tuhan mengijinkan, kami akan berjanji sehidup semati di depan altar Tuhan pada bulan Juli 2007 nanti.
Pada waktu dan masa, terima kasih atas kenangan yang kau toreh di memoriku. Buat ayah dan ibu, terima kasih telah menjadi pelakon utama yang mengisi diari hidupku. Sekarang saya harus siap menjalani etape selanjutnya dari episode kehidupan ini. Semoga Tuhan menolong saya. (to be continued).

Friday, March 16, 2007

Everyday Is A Blessing

Ketika kita memperhatikan hal-hal kecil yang sederhana di sekeliling kita, tanpa disangka-sangka hal-hal itu memberi pelajaran dan inspirasi hingga kita bisa berucap hidup hari ini adalah sebuah berkat. Percaya nggak?
Setiap pagi, ketika bangun tidur saya selalu tidak merasa segar. Malas sekali beranjak. Biasanya saya tidur lagi. Sampai setengah jam sebelum jam kantor baru deh saya siap-siap. Pokoknya kacau deh. Sampai kantor, baru jam 10 aja udah nguap, ngantuk. Dan itu berlangsung berulang-ulang selama 3 tahun kerja. Teman-teman kos juga bilang penampilan saya tiap pagi nggak segar dipandang mata. Ini baru saya sadari! Ternyata teman-teman di kos memperhatikan saya. Soalnya saya biasa pergi pagi pulang sore atau malam (bukan karena lembur tapi karena main game di komputer dulu!) dan kebanyakan waktu malam hari saya habiskan di kamar. Kadang-kadang temen kos bertandang ke kamar terus ngobrol sampai saya ngantuk. Terus tidur, terus bangun lagi, ngantor lagi, pulang, di kamar, tidur, bangun, dan seterusnya. Rasanya irama hidup dan aktivitas saya seperti kaset yang diputar dari side A ke B, B ke A, terus begitu dan parahnya isi lagunya sama!
Jadi hari-hari biasa saya lalui dengan banyak de javu. Kayaknya kemarin saya udah pernah melakukan ini atau eh kayaknya aku pernah baca itu. Apalagi penampilan, aduh itu jadi prioritas kesekian deh. Hem atau T-Shir plus celana jins, sepatu kets, cukup. Saya nggak pernah mikiin orang lain mau perhatikan atau tidak, cuek aja. Yang penting saya nyaman. Yang penting saya, saya, saya, dan saya. Ehm...self oriented banget deh.
Ini terjadi terus hingga suatu pagi. Saat itu seperti biasa, saya bangun ngaret, badan rasanya tidak segar sudah biasa. Nggak pake babibu, langsung loncat dari dipan, ambil perlengkapan mandi, ngloyor ke kamar mandi, pake pakaian, terus memakai bedak (tipis banget) dan lipgloss! Saya suka risih lihat cewek berdandan. Pas mau berangkat, saya ambil jam tangan, eh, apa nggak salah lihat? Kok baru jam setengah delapan (saya ngantor start jam 9). Ya ampun, karena buru-buru, saya pikir kesiangan bangun ternyata pagi itu saya justru terlalu awal bangun (dari hari biasanya).
Iseng-iseng buat ngisi waktu, saya ambil kamera di handphone saya, terus potret-potret diri deh (narsis banget yak?). Semua gaya sudah saya coba, rambut diurai tak ketinggalan. Ceprat cepret berulang kali. Kini giliran saya lihat hasil pemotretan. “Oh no!! Is that really me?!! Kok nggak ada yang bagus dari angel manapun?!” teriak hati saya. Oke, barangkali dengan mengubah gaya rambut. Rambut saya cepit ke belakang, poni dibelah pinggir kanan (biasanya tengah!), pake senyum, sisi kanan, kiri dan depan. Sudah. Sekarang lihat lagi hasilnya. Dan.....nggak bisa dikomentari deh. Saya sendiri kaget melihat look saya. Bawah mata ada lingkaran hitam, senyum terasa dipaksakan, yang paling ngeri adalah sorot mata saya betul-betul tidak menyala! Sekali lagi saya nggak nyerah, mungkin ini perasaan saya aja. Lagi, saya ambil kamera, kali ini saya khususkan menembak daerah wajah, full face, close-up. Cepret..cepret...berapa kali. Hasilnya....oh no!!! Lagi-lagi. Kini saya mulai melihat ada garis di sekitar hidung dan mulut. Saya seperti dimake-up tapi ketika siang, make-up di wajah itu pecah dan guratan make up membentu garis. Aduh saya aging!! Wajah saya seperti tertarik ke bawah, biar pun pasang senyum, tidak ada yang istimewa.
Oh rupanya begitu ya penampilan saya yang tampak luar dan dilihat orang? Pantes aja mereka bilang I’m not fresh at all! Saya aja males lihatnya, apalagi orang lain ya? Hehe... tapi cerita belum selesai. Pas mau berangkat kerja, 15 menit sebelumnya saya makan dulu ceritanya di warung langganan. Ketika mengantre ambil sayur, di depan saya ada seorang ibu dan seorang bapak tua. Si ibu lagi nyiduk sayur dalam plastik untuk dibawa pulang kira-kira. Si bapak menunggui di sebelahnya. Saya sabar menunggu di belakang si ibu. Ibu itu menyangul rambutnya ke belakang dengan semacam sumpit yang ada gantungannya. Memakai anting. Nggak ada pikiran apapun, sampai si ibu itu menengok ke belakang ke arah saya. “Halo, silakan ambil nak. Maaf menutupi ya?, “ katanya sambil tersenyum dan menggeser posisinya agar saya bisa maju. Begitu saya tatap wajah si ibu itu, nggak tahu kenapa hati saya ngrasa damai banget. “Silakan ini sendoknya,” ujarnya lagi pada saya. Ya ampun, saya kembali lihat wajah si ibu itu. Wow! So brightful. Saya tidak merasakan ada nada basa-basi di situ. Ada gurat dan garis memenuhi wajahnya tetapi tutur sapa, senyum dan nada bicaranya..wow!! Ibu itu tampak sangat cantik sekali di usia senjanya. Ketika saya makan, mereka (ibu dan bapak tua yang kira-kira suaminya) melangkah keluar sambil berujar lagi, “Mari nak...,” lagi-lagi sambil tersenyum dan ia menggandeng suaminya itu. God! Is she YOU?
Saya merasa ditampar dua kali pagi itu. Hei! Menjaga penampilan secantik dan sebagus mungkin itu sah-sah saja dan tidak pernah merugikan orang lain. Menegor orang dengan ramah dan menjaga attitude, juga nggak bakal merugikan saya. Ketika saya berpikir tentang diri saya sendiri, apa yang enak dan nyaman buat saya sendiri, ternyata membuat saya menjadi individu paling egois. Saya ngerasa sendiri, ketika si ibu yang sudah tua itu tersenyum pada saya, saya merasakan ada energi yang membuat saya damai. Kenapa saya tidak bisa begitu? Dengan senyum dan tutur kata serta didukung penampilannya yang sederhana tetapi tertata, si ibu tua itu tampak sangat cantik dan mata saya suka melihatnya.
Hari itu si ibu menjadi berkat untuk saya. Saya jadi sadar apa yang saya lakui tiap hari yang sudah seperti kaset side A dan B atau de javu itu, ternyata akibat ulah saya sendiri. Saya tidak mencoba membuat sesuatu yang baru setiap hari. Bangun siang, nggak ada streching atau olah tubuh yang bisa bikin saya lebih segar. Pikiran saya pun stucked pada rutinitas yang jadi membosankan. Apalagi penampilan, ah capek deh...
Mulai hari itu, saya mencoba bertekad mengubah gaya hidup yang acak adul. Saya mulai coba bangun lebih pagi, sebelum mandi paling 15 menit gerak badan dulu atau latihan yoga sesuai petunjuk buku. Terus ya, penampilan meskipun masih pakai hem atau T-Shirt dan jins, paling tidak make-up saya tambah sedikit sana-sini (di atas jam 12 siang udah hilang hehe...ya kan masih dalam proses mencoba!). Yang tadinya polos-polos aja, saya mulai pakai aksesoris seperti kalung dan gelang imitasi. Saya juga usahakan pulang kantor tepat waktu dan yang penting sampai di kos, saya sisihkan beberapa jam untuk ngobrol dengan teman kos. Dari situ saya belajar mendengar. Suer sulit banget! Kadang kita terbiasa untuk didengar sih. Saya juga lagi belajar bersikap tulus. Ini juga sulit banget, kadang ketika senyum atau tertawa, meskipun saya yakinkan kalau itu tulus tapi mulut ini ternyata capek. Pertanda nggak tulus kan? Tapi saya tetap berusaha!
Itulah kenapa saya bilang setiap hari itu berkat. Dari hal kecil dan tampak sepele, kalau dilakukan dengan tulus, bisa berdampak buat orang lain. Saya yakin, hari ini saya ada bukan karena kebetulan saja, tetapi hari ini memang sudah dirancang untuk saya agar saya menjadi berkat juga. Tinggal gimana saya peka aja. Kayak seruan teman-teman kos saya suatu hari ketika akan berangkat kantor.
“Cie...tumben nih good looking!” Ehm...ternyata kalau orang lain ikut senang, saya pun merasa ‘different’. I feel the energy to live forward...