![]() |
| Keluarga kecilku |
![]() |
| Dua anak saya, Valereo dan Gracia |
GOD is always fair! Itu tampak dari gambar foto latar belakang ini. Hidup tak selamanya penuh dengan kebahagiaan, ada kalanya duka atau sedih memberi warna. Ibarat berjalan di antara keringnya ladang sabana yang tandus dan rentan terbakar hangus, pada suatu saat kita akan melihat ada harapan di depan sana, kita pasti sampai pada sebuah sumber yang akan melegakan dahaga kita.
![]() |
| Keluarga kecilku |
![]() |
| Dua anak saya, Valereo dan Gracia |
Hm...apaan tuh? Mungkin udah banyak yang tahu ya, tapi suer ini baru kali pertama saya denger pas pertemuan PKK kemarin hehe.... Ternyata, Keranjang Takakura adalah istilah untuk proses pembuatan pupuk kompos dari limbah rumah tangga. Jadi sisa-sisa makanan, seperti nasi yang basi, sisa ikan, ayam, kulit telur dan buah yang lunak (kulit salak tidak termasuk lho) bisa diolah menjadi kompos. Hehe...menarik. Daripada limbah meja makan menuhin TPS (Tempat Pembuangan Sampah), bagus juga ini penemuan dibuktikan ya. Alkisah, seorang peneliti dari Jepang namanya Mr. Takakura yang melakukan penelitian di Surabaya untuk mencari sistem pengolahan sampah organik tanpa menimbulkan bau dan cairan. Mr. Takakura mengambil sampah rumah tangga yang kemudian dipilah dan dibuat percobaan untuk menemukan bakteri yang sesuai untuk pengomposan tak berbau dan kering. Hasilnya adalah sebuah metode yang diberi nama "Takakura Home Method" atau dikenal istilah "Keranjang Takakura" tadi.
Cara membuatnya sederhana, menurut penjelasan dari narasumber di arisan PKK itu. Ada beberapa peralatan yang diperlukan antara lain :
- Keranjang cucian yang berlubang-lubang (contoh fotonya di atas saya unduh dari internet juga)
- Kardus
- Spatula Kayu/sebilah kayu untuk mengaduk
- Serabut kelapa/sekam
- Kompos lama sebagai aktivator (kompos starter)
Cara pembuatan :
1. Masukan kompos starter ke dalam keranjang cucian yang sudah dilapisi oleh kardus (minimal sepertiga tinggi keranjang).
2. Benamkan sampah dapur/sampah dari meja makan yang sudah dicacah ke dalam kompos sampai tidak terlihat,
3. Lakukan terus hingga keranjang penuh. Perlu diingat, sebelum sampah baru dimasukkan, timbunan lama diaduk-aduk untuk memberi udara segar ke bagian bawah kompos.
4. Pengomposan berjalan bila adonan menjadi panas ketika diraba atau keluar uap air ketika diaduk.
5. Jika bahan kompos terlalu basah, taburilah dengan serbuk gergaji. Kemudian adonan diaduk merata sampai ke bawah.
6. Jika keranjang kompos penuh, isinya dapat dipindahkan ke wadah yang lebih besar untuk proses pematangan.
7. Kompos yang sudah jadi diayak dengan ayakan kawat 0,5cm. Kompos halus dapat digunakan sebagai pupuk. Sisa yang kasar dapat digunakan sebagai aktivator keranjang.
Wuidiih simpel tahapannya yak, pengeen banget nyobain nih. Kalo lihat di gambar cara bikinnya sih kayaknya mudah huehehe...tapi blm tentu di tangan saya sukses :( Bagus juga jadi agenda kegiatan tambahan, bikin keranjang Takakura. Mudah-mudahan terlaksana ya, doakan :D
Buat temen-temen yang udah pernah coba bikin Keranjang Takakura ini, boleh dong dishare pengalamannya sama saya, sekalian juga gimana langkah-langkahnya pas praktek langsung, mungkin ada hal-hal yang terjadi di luar skenario?
Dear visitors,
Terima kasih udah singgah di SatuBumi. Pengumuman nih, SatuBumi mau libur dulu yach. Mo mudik ceritanya. Liburnya cuma 2 minggu aja, mulai tanggal 20 Desember 2008 - 3 Januari 2009. Habis liburan itu, layanan kepada para visitors bakal dilanjutin seperti sedia kala. Buat yg sekedar jjs di SatuBumi silakan, dengan senang kami menyambut Anda.
Oya, tak lupa SatuBumi mengucapkan "Selamat Natal" bagi visitors yang merayakannya dan "Selamat Tahun Baru 2009". Terima kasih untuk Anda yang udah mampir selama ini. Semoga sukses senantiasa di tangan Anda.
Salam....
SatuBumi owner

Ada yang mau saya bagi lagi nih. Hehe...yah maklum pendatang baru dalam dunia rumah tangga jadi ada aja yang pengen dishare. Begini ya rasanya berumah tangga, pisah dari orang tua dan betul-betul mengawali segala sesuatu dari nol bersama suami dan anak. Rasanya sangat 'lonely', biasanya dulu pas belum merit sedikit ada masalah saja suka curhat ke ortu. Sekarang udah suami istri, masa dikit-dikit datang ke ortu, lalu buat apa merit? Hehe...
Jadi ceritanya saya sekeluarga baru ini mesti pindah dari kota asal ke tempat yang baru. Ortu ngantar waktu proses pindahan itu. Begitunya ortu pulang, saya dan suami sempat menitikkan air mata bersama, mampu nggak ya membangun rumah tangga di tempat baru, memulai segalanya dari awal tanpa orang tua? Idih kayak anak TK nggak ditunggui ibunya pas sekolah ya? Tapi memang begitulah kejadiannya. Akhirnya demi membesarkan hati, kami berdua saling menyemangati diri, ayo kita bisa! Mungkin kami perlu beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga rasa asing dan sepi itu sedikit demi sedikit akan sirna seiring waktu.
Dan memang benar, baru sebulan di lingkungan baru kami sudah mulai dekat dengan tetangga kanan kiri. Suami sudah mulai ikut kegiatan bersama misalnya rapat bapak-bapak di kompleks tiap bulan atau kerja bakti. Saya pun sudah belajar ikut-ikutan arisan ibu-ibu PKK. Hehe...sesuatu yang dulu saya sangat hindari, yang namanya arisan itu. Apalagi kalau dengar lagu mars PKK didengungkan oleh sekumpulan ibu-ibu di kampung saya dulu, bawaan saya mencibir sambil meniru-nirukan nanananana....dengan PKK...(cuplikan lagunya yang paling saya hafal cuman belakangnya itu). Apa sih isinya arisan, paling bergosip. Gitu pikiran saya dulu. Eh nggak taunya sekarang giliran saya kena jatah nyanyiin mars itu. Dulu sih bisa berkelit, ogah ikut kumpul-kumpul ibu-ibu, wong belum menikah juga kan? Tapi sekarang? hm...mau berkelit apa lagi?
Selain itu saya dan suami menyadari di mana pun kami berada, kami selalu mengingat peribahasa "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Jadi kalau sekarang kami ada di tempat baru, kami lah yang seharusnya menyesuaikan diri dan mengikuti aturan yang udah lama berlaku di tempat baru itu. Meskipun awalnya canggung dan malas, tapi tanggung jawab sosial sebagai anggota masyarakat sebaiknya memang dilaksanakan (cieh bahasa mengajar :p).
Eh ternyata, ini masih nyambung dari arisan PKK tadi, anggapan saya tentang arisan PKK itu salah besar! Tidak ada tuh bergosip, malahan ibu-ibu biasanya ingin cepat pulang kalau lewat dari satu jam pertemuan, karena ya tau sendiri anak-anak di rumah menunggu entah untuk makan malam lah atau belajar (kebetulan arisan dilakukan pukul 4 sore dan berakhir biasanya jam 5). Dan di arisan yang saya ikuti, malah dikasih tau banyak hal seputar kehidupan berkeluarga, misalnya tips-tips merawat anak dan ada juga info kewanitaan yang sumbernya bisa dari majalah. Asyik juga ya. Hehehe...wah..saya ternyata terlalu skeptis, bawaannya curiga melulu terhadap kegiatan-kegiatan sosial macam arisan ini ya?
Lucunya ya pas di bagian harus menyanyikan lagu Mars PKK tadi. Untuk menyanyikan mars itu, ibu-ibu ini berdiri ya seperti kalau menyanyikan Indonesia Raya itu. Hihi saya geli deh, tapi ikut aja lah. Pas pada menyanyi, saya nggak tau syairnya. Alhasil saya cuman bersenandung dalam hati, nananananana....dengan PKK...itu aja bagian yang saya hafal, paling belakang. Wah malu juga rasanya, tapi wajar kan, pendatang baru :p
Begitulah kisah saya kali ini, tentang pengalaman pertama jadi anggota arisan PKK. Semoga bermanfaat ya. Kalau ada pengalaman lain dari ibu-ibu atau mbak-mbak yang lain, silakan bagi juga ya, sekalian kalau ada yang tahu syair lagu Mars PKK, bisa kasih tau saya? Terima kasih....
Satu hal yang aneh, sejak melahirkan kok produktivitas saya menulis kok cenderung menurun ya? Bawaannya males aja. Padahal banyak banget yang bisa dishare lewat tulisan. Mungkin malesnya gara-gara bingung juga mau yang mana dulu ditulis, soalnya memang punya bayi itu seribu satu cerita sih. Setiap hari ada hal baru yang dipelajari. Apalagi buat keluarga muda seperti saya.