Sunday, August 26, 2007

Ladies….It’s The Baby Inside!

Oh my God….beneran nih?
Itulah kalimat pertama yang terluncur manakala mata saya melototin sebuah test pack. Ya, saya hamil!! Secepat itukah? Ya! Kalau Anda membaca tulisan saya yang terdahulu (2 SR Pasca Pernikahan), saya menceritakan bagaimana tidak menentunya kondisi emosional saya waktu itu. Hm….ternyata ada penyebab yang tidak bisa diabaikan menurut saya. Mungkin memang janin dalam perut saya sedang mencoba berkomunikasi, mengatakan, “Mama, papa, aku udah di sini lho…. Ayo dong perhatiin ma, jangan capek-capek kerjanya. Papa juga ya, jangan sibuk-sibuk amat sampai lupa tanya kabarku.” Hehe....mungkin ia coba menggedor-gedor pintu rahim saya agar mamanya ini tahu ada seseorang di dalam sana.
Ya, begitulah. Gara-gara saya tidak peka terhadap kondisi kehamilan saya yang masih amat muda ini, saya mengalami flek. Sekali lagi, karena ketidakpekaan, saya masih berpikir flek itu adalah menstruasi saya. Sebenarnya saya agak curiga awalnya, karena saya memang telat datang bulan. Tetapi itu saya anggap sebagai perubahan hormonal yang wajar terjadi pada wanita pasca menikah, apalagi kondisi emosi saya waktu itu amat sangat naik turun. Saya pikir waktu bercak kecoklatan itu terjadi, saya dapat haid yang siklusnya berubah. Yang menjadi aneh adalah ketika saya sadari bahwa ‘haid’ saya itu berlangsung seminggu lebih. Wah, ini tidak beres pasti ada sesuatu yang terjadi.
Lalu, iseng-iseng saya beli test pack, dua buah sekaligus beda merk. Yang satu mahal diklaim 99% akurat, yang lain lebih murah jadi saya pikir ada perbandingan lah. Dua kali test, saya terkejut karena semua menunjukkan dua garis alias positif. “Lalu, apakah bercak kecoklatan itu?,” saya jadi merinding. Akhirnya setelah memastikan ke dokter, terjawab sudah bahwa saya memang lagi berbadan dua.
Dokter mengatakan, bahwa bercak kecoklatan itu adalah flek, biasanya bisa terjadi di awal kehamilan, karena janin sedang berupaya menanamkan dirinya dalam rahim. Namun, ada kemungkinan lain yang saya mendadak takuti. Bisa jadi, flek pertanda bahaya terjadinya keguguran. Kemungkinan flek saya disebabkan kecapekan. Langsung saja, saya terima saran dokter untuk bedrest selama seminggu penuh.
Dan tahukah Anda? Setelah mengetahui kehamilan ini, kondisi emosi saya mulai stabil lagi. Semua perasaan tidak menentu yang pernah saya ceritakan sebelumnya, mendadak sirna. Reaksi suami saya, dia sangat bahagia mendengar kabar ini. Sekarang dia jadi lebih perhatian lagi. Hehe, ada milik kami berdua dalam perut saya yang harus dirawat dengan ekstra hati-hati. Saya mengalami yang biasanya ibu hamil alami. Mual-mual, mudah letih dan mengantuk. Untunglah rekan kerja di kantor memahami keadaan ini, jadi saya sering minta break sebentar untuk sekedar berbaring beberapa menit di kantor. Mudah-mudahan kondisi kandungan saya tetap sehat dan kuat hingga saatnya nanti dilahirkan. Kini, saya merasa tidak sendirian. Ada seseorang di dalam sana yang sedang merenda kehidupannya. Mudah-mudahan rahim saya menjadi media yang hangat tempatnya bertumbuh menjadi bayi sehat. God... thanks, I’m glad to be a woman!

2 Skala Richter Pasca Pernikahan


Bukannya ingin melebih-lebihkan keadaan, hingga saya pilih judul di atas. Saya cuma sekedar pengen menggambarkan suasana biduk rumah tangga saya setelah hampir 2 bulan ini berjalan. Boleh dikata sebulan terakhir, saya tengah dilanda euforia pasca pernikahan. Semuanya meledak-ledak. Mulai dari senang, sedih, bete, marah semua ada. Pokoknya rasanya seperti makan permen nano-nano. Pada seminggu setelah hari H, pasti semua mantan pengantin merasakan surga dunia yang tak ingin mereka tinggalkan. Itu juga yang saya rasakan. Masa bulan semanis madu berdua, semua manis dan indah. sedih rasanya kalau harus mengakhiri masa-masa itu. Tapi apa boleh buat, kami harus segera ‘bangun’ dari tidur. Masa cuti cuma seminggu dan kami harus bekerja lagi. Sedih rasanya meninggalkan masa bulan madu itu.
Saya kembali bekerja di Salatiga dan suami saya bekerja di Yogya. Kami ‘terpaksa’ berjauhan karena hal ini telah menjadi kesepakatan sebelum menikah bahwa untuk setahun ke depan, saya akan tetap bekerja di Salatiga dulu hingga suami saya mendapatkan kejelasan mengenai status pekerjaannya. Kami menganggap pekerjaan saya lebih dapat dijamin keberlangsungannya dibandingkan pekerjaan suami saya yang hampir habis masa kontraknya. Waktu itu sih, saya enteng saja menyetujuinya (toh itu keinginan saya yang didukung oleh suami). Hanya Sabtu dan Minggu saja kami bertemu dan menghabiskan sepanjang hari dengan berekreasi, ya jalan-jalan, ya di kamar (hehe...).
Tetapi mendadak terjadi perubahan pada diri saya yang saya sendiri tidak pahami dari mana datangnya. Bukan perubahan fisik, tetapi perubahan suasana hati. Tiba-tiba saja, saya menjadi luar biasa melo dan cengeng seperti anak SD yang enggan ditinggal ibunya ketika sekolah. Padahal selama 8 tahun berpacaran dengan suami saya, saya tahu benar cengeng bukan saya banget gitu lho. Bahkan hal-hal yang dulu saya anggap biasa saja bahkan tidak terpikirkan, sekarang sangat penting untuk dibahas (baca : diperdebatkan). Misalnya saja, kalau dia terpaksa lembur di kantor atau dia telat bersms. Aduh, hari-hari hanya saya isi dengan kemarahan yang tidak kenal kompromi. Keinginan untuk didengar dan diperhatikan saja. Seringkali, tiap hari dia gelisah apa lagi yang akan menjadi ‘bahan peledak’ saya? Saya cukup prihatin dengan kondisi emosi saya yang sungguh tidak stabil sebulan belakangan karena saya sendiri merasa lelah yang luar biasa.
Jarak yang dulunya saya anggap tidak menjadi masalah, kini sangat berarti. Setiap hari saya lewatkan begitu saja kebersamaan dengannya di rumah. Saya lewatkan peran saya sebagai istrinya. Sesuatu yang menjadi alasan mengapa saya ingin menikah. Saya tidak sekedar ingin menjadi istri semata, tetapi ingin memainkan peran itu dengan baik. Kini, demi periuk nasi (atau keegosian saya?), kami harus berpisah, sekalipun jumpa tiap weekend tapi hal ini saya akui cukup membuat saya senewen selain mungkin pengaruh perubahan hormon kewanitaan saya kali ya? Maka saya memakai hal-hal sederhana yang tadinya biasa saja menjadi umpan untuk menyalurkan kesenewenan saya tadi.
Dalam kamus para pria rasanya hanya ada kelugasan, sesuatu yang tidak di awang-awang, sesuatu yang harus dikatakan, harus diterangkan, bukan diumpakan. Seperti suami saya. Setiap kali bertengkar karena hal-hal yang sepele tadi, dia selalu bertanya, “Lalu, mama pengen papa seperti apa?” Aduh, itu pertanyaan tabu buat saya. Karena saya berpikir, kalau saya bilang papa harus A, B, C maka apa yang dia lakukan semata supaya saya tidak marah lagi. Bukan lagi dilakukan dari kesadarannya. (Lagi-lagi) suami saya hanya bisa geleng-geleng kepala.
Hal menarik lainnya yang membuat saya lebih kenal mantan pacar saya ini adalah, kebiasaan dia menguasai sebuah kotak bernama televisi. Benar yang pernah dirilis oleh banyak buku psikologi, dalam hal penguasa remote, lelaki lah rajanya. Setiap kali menonton bersama, dia mempersilakan saya menonton kesukaan saya misalnya acara Insert di TransTV (partisipan gosip club member). Tapi belum selesai satu berita, ia sudah ambil alih remote TV dan ia mulai pencet sana-sini tanpa arah lalu kembali lagi ke mata acara yang saya sukai tadi (basi lah kabarnya udah lewat). Dia baru berhenti kalau saya sudah meliriknya atau dia lihat berita olahraga. Kebiasaan dia menggunakan kipas angin atau fan ketika tidur, juga sempat mengganggu saya. Saya paling anti dengan fan yang secara langsung mengenai tubuh saya, bisa masuk angin. Tapi suami saya sangat menikmati hembusan putaran angin itu kala tidur. Ketika saya tanya kenapa harus pakai fan meskipun udara dingin. Jawabnya, “Aku suka dengar suara fan ketika tidur.” Alasan ini sungguh tidak ilmiah dan saya dibuat tertawa ngakak. Alhasil kalau tidur, saya selalu pakai selimut dari ujung leher hingga kaki, sedangkan dia justru topless bagaimanapun dinginnya J
Belum lagi, kebiasaan memencet odol (pasta gigi). Bagi saya, memencet odol di atas sikat gigi tentu sudah baku dan jamak. Tapi tidak dengan suami saya, saya terkejut ketika dia memencet odol langsung ke mulutnya baru dia gosok gigi. Awalnya saya marah-marah karena berarti tube pasta gigi sudah tidak higienis lagi, tahu apa reaksinya? Dia cuma tertawa, “Hehe....” Aneh ya?
Makanya saya umpamakan hiruk pikuk yang terjadi selama 2 bulan pernikahan saya sebagai getaran-getaran gempa yang amat kecil skalanya. Saking kecilnya, kadang saya tak sadari bahwa sebab musababnya harusnya dibicarakan, supaya yang kecil itu nantinya tidak menjadi besar dan berpengaruh serius bagi rumah tangga saya kelak. Salah satunya, getaran ‘gempa’ yang diakibatkan jetleg kebiasaan berdua yang amat sangat kontras ditambah kondisi emosional suami istri yang tidak sama stabilnya.
Hingga kini, saya masih terus belajar menyesuaikan diri. Saya pikir begitu juga dengan suami saya. Bagaimanapun emosinya saya di kala tertentu, saya amat menyayanginya, terutama kalau ingat senyumnya. Hihi...cute seperti anak kecil. So, kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya ya. Doakan kami.

Tuesday, August 7, 2007

SO OTHERS MAY LIVE

Maraknya kecelakaan kapal yang terjadi selama beberapa bulan ini sungguh sangat memprihatinkan bangsa kita. Bagaimana tidak? Saya baru sadar kalau untuk mengarungi samudera dengan kapal ternyata sama besar resikonya ketika naik pesawat atau alat tranportasi apapun. Nyawa semua penumpang dengan alat transportasi apapun di negeri ini (seharusnya) sama berharganya. Keprihatinan itu menginspirasi saya untuk menonton sebuah film berjudul Guardian. Seorang teman merekomendasikan film buatan tahun 2006 ini kepada saya, cocok dengan tema kecelakaan kapal baru-baru ini.
Jika diterjemahkan judulnya kira-kira berarti “Penjaga”. Diawali oleh sebuah narasi. Konon, di lautan Amerika dipercayai sebuah legenda. Ada seorang yang hidup di bawah laut. Dia selalu ada untuk menolong korban kecelakaan kapal di laut, terutama mereka yang sudah hampir putus asa diombang-ambingkan air selama berhari-hari dan merasa sendirian karena pertolongan yang tak kunjung datang.
Ini kisah seorang Jack Randall. Sebuah adegan mempertunjukkan Randall dan tim Penjaga Laut dan Pantai AS sedang mengevakuasi penumpang kapal yang karam di tengah laut lepas. Di antara mayat-mayat yang terapung, Helikopter berhasil menyelamatkan sepasang suami istri. Dalam perjuangan pasangan itu di tengah kepungan mayat-mayat, si suami berusaha merebut pelampung istrinya. Bahkan untuk melakukannya si suami mencekik leher istrinya. Mengetahui hal ini, dengan geram Randall meninju si suami agar pingsan dan tidak berulah hingga akan membuat proses evakuasi terhambat. Semua anggota tim sudah memutuskan meninggalkan lokasi karena yakin semua penumpang sudah tewas terapung-apung, tetapi sebuah tembakan api muncul dari permukaan. Berarti ada yang masih hidup! Randall ingin memeriksa sekali lagi dan ia memaksa diri turun kembali meskipun anggota tim lainnya menolak karena bahan bakar menipis.
Randall memeriksa satu-satu mayat yang terapung-apung itu. Akhirnya ditemukannya seorang pemuda yang pucat pasi dan hampir putus asa. Randall segera menalikan pemuda itu dalam keranjang evakuasi. Ketika itu tim di helikopter memperingatkan Randall untuk cepat-cepat menaikkan pemuda itu, namun tiba-tiba sebuah papan dari kapal yang karam terbang oleh ombak yang tinggi dan mengenai helikopter hingga si heli kehilangan kendali dan meledak di atas. Randall tertegun sejenak kemudian beralih memandang si pemuda yang semakin pucat dan ketakutan itu. “Kau akan baik-baik saja,” katanya sambil memeluk pemuda kuat-kuat pada sebuah keranjang yang sedianya akan ditarik helikopter. Baru saja ia membisikkan kata itu, tiba-tiba si pemuda dalam keranjangnya, tersedot ke dalam air dan hilang entah kemana. Rupanya karena ia masih terikat pada helikopter tadi, si pemuda ikutan nyungslep ke laut.
Seorang temannya yang berhasil selamat akhirnya meninggal dalam pelukkannya karena lamanya petolongan datang.
Peristiwa itu membuat Randall trauma berat dan harus rela tidak lagi melakukan tugas di laut. Atas petunjuk atasannya, Randall akhirnya menerima keputusan untuk mengajar di sekolah yang mencetak pada Guardian. Di lain pihak, istri Randall yang sudah capek ditinggal-tinggal dan diabaikan karena tugasnya, meminta cerai. Dalam keadaan dilematis ini, Randall tetap keukeh dengan panggilan hatinya, menjadi Guardian.
Guardian punya motto yang cukup menyentuh hati : So others may live (hingga orang lain bisa hidup!). Membayangkan makna motto mereka, jelas bahwa siapapun yang masuk ke sekolah Guardian hanya punya satu motivasi yakni panggilan hidup untuk menyelamatkan nyawa orang lain khususnya para korban kecelakaan di laut. Meskipun untuk menjadi Guardian, mereka harus menempuh pelajaran berat. Bertahan mengapung di kolam renang selama 1 jam, ditambah bongkahan es di dalamnya, berpasang-pasangan menyelam sambil memindahkan beban dan hanya diijinkan mengambil nafas ke permukaan sekali setelah yang lain mendorong beban itu ke depan, dsb. Nantinya mereka harus siap sewaktu-waktu mendapat panggilan berangkat ke laut lepas dan menolong para korban. Wuih....keren banget yak?
Seorang murid pria (maaf saya lupa namanya) yang diperankan Aston Kutcher menunjukkan prestasi cemerlang. Ia punya pengalaman pahit di masa lalunya hingga ia bertekad bisa menjadi The Guardian agar rasa bersalahnya terobati. Ketika masih kecil, ia kehilangan 2 temannya mati tenggelam ketika mereka sedang menaiki perahu di sebuah danau dan ia tak mampu menyelamatkan mereka.
“Berapa orang yang telah kau selamatkan?,” tanya pemuda itu pada Randall. Pertanyaan ini tak kunjung dijawab hingga suatu hari sang murid kembali menanyakannya dan Randal menjawab, “Dua Puluh Dua.” Murid itu tertegun heran, selama ini yang didengarnya Randall adalah pahlawan di laut, banyak orang sudah diselamatkan berkat jasanya, tetapi padanya Randall hanya menyebut angka sekecil itu? “Dua puluh dua yang tidak bisa kuselamatkan. Hanya itu yang selalu kuingat,” jelas Randall menjawab tanya di kepala muridnya.
Di bawah gemblengan Randall, pemuda itu termasuk satu dari segelintir murid yang berhasil lulus dengan baik. Tugas pertamanya menyelamatkan dua orang yang terjebak dengan kanonya di sebuah gua. Bersama Randall, ia turun ke laut dan mengeluarkan mereka dari dalam gua. Sang murid berhasil mengevakuasi, tidak demikian dengan Randall. Di tengah ia berusaha mencapai pintu gua bersama seorang korban, bayangan peristiwa ketika heli yang ditumpangi kawannya meledak, seorang pemuda yang akan ditolongnya nyungslep ke laut, kawannya harus mati di tengah lautan, terus membayangi hingga ia merasa takut. Akhirnya, si murid mencapai gua kembali dan membantu Randall & korban perahu kano keluar dengan selamat.
Sejak itulah, Randall memutuskan berhenti menjadi Guardian. Ia merasa dengan traumanya itu justru bisa mencelakakan orang lain. “Aku akan memancing saja,” katanya pada muridnya yang menahannya pergi. Randall pun menemui istrinya untuk menyerahkan surat cerai yang sudah ditandatanganinya dan cincin pernikahan mereka. Sebenarnya istri Randall sudah berpikir ulang untuk memaafkan dan kembali kepadanya tetapi mulutnya tak kunjung mengatakan hingga Randall meninggalkannya.
Dalam perjalanan untuk membereskan barangnya di kantor, Randall mendengar dari radio, ada kecelakaan kapal di laut dan sang murid sedang ditugaskan melakukan evakuasi. Namun murid itu justru terkunci di dalam dek kapal untuk menolong sang nahkoda, maka diperlukan seorang lagi Guardian untuk terjun menolongnya. Sayang tak ada anggota Guardian yang saat itu standby, kecuali Randall yang sudah memutuskan berhenti itu.
Segera Randall bergegas siap dengan perlengakapannya dan dibawa ke lokasi evakuasi. Singkat cerita, Randall berhasil mendobrak pintu dek dan mereka berdua keluar untuk naik ke heli. Ironisnya, si nahkoda dalam cerita itu akhirnya mati tertimpa tabung gas.
Di sinilah kisah akhir yang begitu mencekat tenggorokan itu dimulai. Ketika Randall dan sang murid sedang ditarik ke atas, mereka dengan satu tangan masing-masing berpegangan pada tali. Baru setengah perjalanan ditarik, talinya hampir putus. Sang murid panik dan berteriak agar tim di heli mempercepat penarikan. Tetapi tali tetap mengelupas sedikit-demi sedikit dan posisi Randall sudah hampir jatuh. Sang murid berkata, “Aku akan tetap memegang tanganmu. Bertahanlah,” teriaknya menyemangati gurunya.
“Tidak. Tali ini hanya cukup untuk satu orang. Itu berarti kau,” kata Randall sambil memandang sang murid yang masih panik. Randall pun melepaskan sarung tangannya dan ...jatuhlah ia kembali ke lautan nan gelap itu. Murid itu berhasil naik ke heli, sambil meratapi kepergian gurunya yang tak tampak lagi di permukaan. Setelah berhari-hari pencarian tidak membuahkan hasil, Randall pun dinyatakan hilang.
Hingga suatu ketika, jauh setelah insiden itu terjadi, sang murid yang telah menjadi The Gurdian sedang mengevakuasi seorang penumpang kapal karam. Ketika dibawa naik ke heli, si penumpang itu berkata, “Di mana dia? Di mana dia?”
“Dia siapa? Tidak ada orang lain selain Anda, pak,” jawabnya.
“Orang yang memakai baju oranye. Dia yang menyelamatkan saya tadi, dia terus menemani saya saat terombang-ambing di laut. Dia meyakinkan saya untuk tidak menyerah karena pertolongan pasti akan datang,” terangnya.
Sang murid pun kembali tertegun sambil melihat ke bawah. Ia teringat peristiwa ketika Randall, gurunya menceburkan diri ke laut demi dirinya waktu itu, Randall memakai baju dinas berwarna oranye. Sang murid tersenyum. Di bawah sana Jack Randall masih menolong orang. So, others may live! (*)

Wednesday, July 11, 2007

Sindroma

(Sebenarnya tulisan ini akan saya posting jauh hari sebelum tanggal pernikahan saya, 1 Juli kemarin, tetapi karena nggak sempat, baru dua minggu setelahnya deh saya post, mudah-mudahan tetep relevan)

Kata orang, menjelang hari pernikahan, ada saja ‘ujian’ yang bakal dihadapi oleh calon mempelai. Mulai dari godaan dari mantan-mantan, rasa sebal, rasa jealous pada pasangan, dll. Dulu sih aku nggak terlalu percaya, tergantung orangnya sih, batinku. Eh...ternyata hal itu menimpaku juga! Hari pernikahanku tinggal dihitung dengan jari, ya sekitar 10 hari menjelang hari istimewa itu. Aku dicekam perasaan tak menentu. Biasanya sih rasa itu muncul sepulang kerja. Kebetulan pasanganku juga bekerja tapi di lain kota (jadi long distance nich ceritanya, meskipun kota dimana aku bekerja cuma 3 jam dengan bus dari kota tempat pasanganku bekerja). Pada hari-hari biasa, selama bekerja kami jarang berkirim sms, itu sudah hal biasa bagiku, paling pulang kerja kami bertelepon ria. Eh, nggak tahu kenapa hari-hari belakangan ini aku sensitif banget. Nggak disms seharian aja udah gondok banget, bukan itu saja. Pikiranku lalu bikin-bikin opini sendiri. Jangan-jangan dia udah nggak perhatian lagi, jangan-jangan dia keasyikan dengan teman-temannya di kantor jadi lupa aku. Kalau sudah begitu, rasa sebal kubawa waktu dia meneleponku. Bukannya kata-kata sayang terluncur, eh malah menyelidiki kenapa nggak sms seharian ini, dsb2 yang berakhir dengan meledaknya emosiku padanya. Kalau sudah begini, dia biasanya minta maaf, dan aku? Aku melulu merasa benar :-p (padahal dalam hati aku juga bertanya-tanya aku ini kenapa, kok segitunya?)
Terus ada lagi, suatu hari dia memutuskan menjual barang miliknya. Sebelumnya, aku tidak pernah merasa keberatan kalau dia mau menjual barang yang dia beli sendiri dari hasil keringatnya, aku merasa itu haknya. Asal dia memberitahuku. Tapi kali ini lain. Begitu aku tahu dia menjualnya, aku naik pitam. Aku bilang kepadanya kalau aku merasa tidak ada artinya. “Kalau kamu bisa memutuskan segala sesuatu tanpa meminta pertimbanganku, silakan saja. Berarti lain kali kalau aku mau jual kalung kesayanganku untuk biaya tambahan bulanan, tanpa pertimbanganmu, itu berarti sah-sah saja!,” kataku geram. Lagi-lagi, setelah berargumen yang berakhir dengan derai air mata, dia pun (lagi-lagi) mengalah, meminta maaf padaku. Dan aku? Hehe...yup betul! Merasa benar.
Aku juga tiba-tiba melarangnya begadang dan memintanya untuk tinggal di rumah saja sepulang kerja. Padahal aku tahu, sehari-hari dia bukan tipe orang yang bisa duduk diam di rumah sepulang kerja. Biasanya dia nongkrong di warung dekat rumah dan ngobrol-ngobrol sampai kantuk menyerang, baru dia pulang tidur. Biasanya aku bisa menerima kebiasaan ini, tapi kali ini tidak. Aku betul-betul mengultimatum dia untuk tidak melakukannya lagi. Bahkan parahnya aku melarangnya ikut ronda! Padahal tahu sendiri, kalau di kampung, ini suatu kewajiban bagi para bapak dan pemuda. Lagi-lagi argumentasi melalui telepon selalu berakhir dengan ‘kemenanganku’ yang lalu kurevisi setelah beberapa saat dia menutup teleponnya.
Kalau dia tanya,”Ada apa denganku?” aku pun tidak yakin bisa menjawab dengan benar. Karena aku betul-betul tidak tahu aku ini kenapa. Apa mungkin aku sudah terserang sindrom pranikah itu? Lalu mengapa semua yang mulanya biasa-biasa saja, menjadi sesuatu yang serius dan harus dibicarakan? Bahkan sebuah harga mati bagiku yang dia tak boleh menawarnya.
Aku pun menjadi letih karena tekanan emosional yang tidak menentu ini. Tidak ada seorang pun yang bisa kuajak bicara dan mau memahami aku. Maka kuputuskan untuk merenung sendirian. Aku menelisik, kalau memang ini sindrom, mengapa hal-hal tadi begitu mudahnya memicu pertengkaran kami menjelang hari H ini. Analisis awalku adalah, bahwa masalah-masalah yang ‘sepele’ itu nyatanya tidak betul-betul bisa dianggap ringan. Dulu saja aku hanya menganggap lalu, mestinya aku menyatakan keberatan atau ketidaksetujuanku sejak dulu. Namun semua kuendapkan dan tanpa kusadari endapan-endapan itulah yang keluar manakala emosiku meledak. Misalnya saja, kebiasaan kami tidak bersms sepanjang bekerja, sebenarnya aku tidak menyukai habit ini. Aku ingin dia mengirim kabar sedang apa begitu pula aku ingin demikian padanya. Tetapi karena aku pikir itu tak jadi soal dan terutama aku gengsi memulainya, ya sudah kuanggap hal itu bisa dikompromikan. Lalu, kebiasaan dia nongkrong di warung dekat rumah, aku sebenarnya tidak suka kalau dia setiap malam melakukannya. Tetapi sekali lagi aku melihat apa urgentnya hal itu dibahas, karena toh selama ini kami berjauhan kota. Terus kebiasaan dia memutuskan segala sesuatu sendiri, dalam hatiku yang terdalam, aku merasa tersinggung, terhina dan merasa diabaikan. Tapi aku coba redam saja isu ini karena aku merasa kami masih baik-baik saja berjalan bersama.
Rupanya harapanku untuk mewujudkan diam itu emas berbuah mengecewakan. Aku selalu mengharapkan lelaki bisa membaca pikiran wanita, apa yang dimaui wanita tanpa kita harus mengatakannya secara langsung. Ternyata itu SALAH BESAR! Lelaki tidak bisa melakukannya. Wanitalah yang harus mengucapkannya (kasihan wanita yang gengsinya tinggi seperti aku). Lelaki hanya bisa membaca bahwa setelah berargumentasi dan bertengkar hebat dan berakhir ‘damai’ maka wanita akan segera melupakan akar masalahnya. Semua tampak kembali normal dan baik-baik saja. Padahal kebiasaan menyimpan akar masalah yang tidak tuntas tercerabut itu akan meninggalkan bekas dalam hati wanita dan seperti yang kualami, pada saat-saat ‘genting’, akar itulah yang menceruat ke permukaan. Si pria pun terbengong-bengong, “Kok aneh, kebiasaan ini kan sudah lama kulakukan, mengapa baru sekarang marah-marah?”.
Jadi begitulah rupanya, ada sejarah yang berkontrbusi besar memunculkan sindrom pranikah itu (minimal dalam kasusku). Sedangkan penyebab mengapa emosi-emosi itu meledak menjelang hari H, mungkin karena setelah hari H, aku merasa tidak bisa lagi semaunya meninggalkannya karena kemauanku tidak dituruti, begitupun sebaliknya. Pernikahan adalah sebuah komitmen seumur hidup, apapun yang terjadi tidak boleh ada kata berpisah karena tidak cocok, itu yang dijunjung tinggi agama yang kuanut. So, para wanita...mungkin salah kita juga kalau suka gengsi lalu pura-pura fine-fine saja melihat kebiasaan pasangan yang tidak kita sukai. Speak up! Jangan disimpan seperti aku, mereka pasti mendengar (at least beberapa menit) lalu syukur-syukur dia mau memperbaiki, kalau tidak, ingatkan saja terus. And...hey Men! Treating us like a lady all the time is not enough, listen to us and please give us some spaces in your mind to be considered. Okey??
Dan sekarang tinggal 9 hari lagi. Aku tidak sabar menanti apa yang akan terjadi berikutnya. Tunggu di sekuel selanjutnya ya....

Thursday, March 29, 2007

Sorry or Maaf?

Tak sedikit di antara kita (termasuk saya) di negeri Indonesia ini, yang kalau ngrasa salah atau ditegur orang lain karena berbuat salah, bukannya bilang “Maaf, ya” tapi “Sorry ya”. Ya nggak salah sih secara substansi. Dua-duanya sama-sama dimaksudkan untuk meminta maaf pada orang lain. Bedanya yang satu pakai bahasa Inggris. Tapi, meskipun sama maknanya kayaknya lidah kita lebih ngrasa nyaman bilang sorry dibanding maaf. Pada kata maaf, rasa-rasanya di dalamnya terkandung unsur ketulusan dan pernyataan yang sungguh-sungguh bahwa kita menyesal dan tidak gengsi meminta pengampunan. Sedangkan pada kata sorry (apalagi kalau kita bilang sorry pada sesama orang Indonesia), kesannya terasa sebenarnya kita berbasa-basi saja, tidak benar-benar ingin meminta maaf, ada unsur gengsi atau malu-malu mengakui kesalahan kita.
Bobot kesungguhan pada kata maaf dan sorry itu jadi beda. Kadangkala mengakui kesalahan dan berkata “Maaf” kepada orang lain sungguh memerlukan keberanian. Biasanya kita selalu merasa benar. Kalaupun kita memang salah, kita seringkali meyakinkan diri bahwa pihak kita (sebenarnya) sudah benar dan orang lain saja yang salah menanggapi atau parahnya kita malah tidak peduli. Kita lalu mencari-cari alasan untuk bisa membenarkan diri.
Di sebuah harian nasional, pada satu halaman yang sama, saya menemukan 2 artikel dengan judul besar berbunyai “ Eurico Guteres Meminta Maaf “ dan “Menteri Pertahanan Malaysia Minta Maaf “. Masing-masing menyangkut masalah yang berbeda, Guteres berhubungan dengan kasus pelanggaran HAM di Timor-Timur sedangkan Menhan Malaysia berhubungan dengan kasus Ambalat. Bukanlah sebuah ketidaksengajaan rasanya kalau judul kedua artikel itu ditulis besar hingga menarik perhatian mata untuk membaca isinya. Media ini mengangkat “Maaf” mereka sebagai sesuatu yang menunjukkan sikap ksatria yang bermakna tulus dan patut dihormati. Ketika selesai membacanya, orang bukannya mencemooh tapi justru merasa lebih menghargai pernyataan sikap ini.
Jadi moral ceritanya apa nih? Ya jangan sungkan kita melatih diri untuk benar-benar meminta maaf bila kita melakukan kesalahan. Sekecil atau sesepele apapun kesalahan itu menurut kita, bisa jadi bagi orang lain sudah sangat menyakitkan. Saking menyakitkannya, sampai kata “sorry” pun tidak cukup. Pilihan kata “maaf” untuk menyatakan penyesalan lebih tepat. Ya mirip-mirip dengan kebiasaan mengungkapkan rasa sayang misalnya pada pacar atau orang tua. Alih-alih menggunakan “Aku sayang kamu” kita lebih enak pake “I love you”. Sama-sama maknanya tapi lebih dalam yang mana?
Ini pendapat dari kacamata saya lho, sifatnya lebih subyektif. Nggak semua yang saya utarakan ini benar menurut orang lain. Yah, kalau gitu, saya minta maaf kalau pendapat ini terlalu menggurui.(*)

Thursday, March 22, 2007

Phase of My Life (Part 1)

Akhirnya masa ini datang juga. Saya harus tunduk pada waktu dan harapan. Saya harus puas melepas 28 tahun bersama ego dan kesenangan. Saya segera menjadi dua, tetapi satu. Saya tidak ingin menyia-nyiakan masa yang tinggal 3 bulan ini! Saya kembali memutar ulang kaset memori saya.
Kala saya TK, saya punya 2 orang sobat kental namanya Tari dan Lusi. Saking akrabnya kami kemana-mana bertiga. Sampai-sampai kami dijuluki DeTaLu girls. Di antara kami bertiga, sayalah paling suka molor bangunnya. Bisa dijamin ketika dua teman karib saya itu menghampiri untuk berangkat sekolah, saya masih tidur. Akhirnya mereka menunggui saya, lebih sering mereka akhirnya berangkat duluan.
Kala saya masih SD, saya adalah anak yang sangat cengeng. Hobinya menangis kalau ditinggalkan ibu yang senantiasa menungguiku di luar kelas. Apalagi kalau telat dijemput dari sekolah. Aduh, aku bisa menangis meraung-raung. Kebiasaan itu tidak surut meskipun dalam seminggu aku bisa lebih dari 2 kali menangis ketika bapak atau ibu telat menjemput. Ibu guruku sepertinya mahfum, paling-paling tugasnya menemaniku sampai jemputan datang.
Pernah suatu ketika, karena belum dijemput, aku nekat mengikuti seorang teman laki-lakiku yang kebetulan rumahnya dekat dengan rumahku. Namanya Bambang. “Mbang, aku ikut kamu,” ujarku mantap. Meski Bambang bengong sebentar dia lalu menjawab, “Aku mau ke rumah nenekku. Aku nggak dijemput. Jalan kaki.” Dan jawabku mungkin membuatnya sebal, “Iya, aku ikut jalan kaki.” Saya berjalan berpuluh kilo hingga sampai di rumah nenek Bambang dan dimarahi. Lalu mereka mengantar saya pulang.
Waktu itu, saya paling suka dijemput bapak atau ibu lalu kami mampir ke warung atau toko, makan siang atau mengantar ibu belanja. Oya, pada masa SD inilah, saya sudah mendapat menstruasi pertama, tepatnya di kelas 4 SD! Bisa dibayangkan betapa paniknya saya. Peristiwa ini juga sempat membuat saya stress jadi saya berubah seperti orang bingung. Saya paling sebal kalau ada teman laki-laki yang naksir saya, bahkan melirik saya, saya bisa naik pitam. Saya sempat dibawa ke psikiater dan sang ahli mengatakan itu karena perubahan hormonal saja. Leganya…..
Ketika SMP, penampilan abadi saya sejak TK hingga SD terus saya bawa. Rambut panjang dikepang kuda plus poni di depan. Saya ikut ekstra kurikuler baris berbaris dan menempati sab ke dua dari depan. Lumayan kan tinggi saya. Selain itu saya ikut ekstra musik, pegang suling  Di SMP saya ikut bermacam lomba, selain baris berbaris juga lomba ensemble musik. Oya, saya mulai bergabung dengan kegiatan organisasi juga, salah satunya GEMA. Itu adalah wadah para pelajar SMP & SMU di Yogya yang hobi menulis. Tiap minggu, kami disediakan 1 halaman khusus di koran lokal namanya BERNAS yang harus digarap bersama-sama. Saya tidak punya pacar dan masih takut dengan cowok. Pernah, seorang teman cowok dari lain kelas naksir dan ingin berkenalan. Saat istirahat, itu cowok mendatangi saya dan duduk di samping saya. Tahu apa yang saya perbuat? Begitu dia duduk, saya lari tunggang langgang! Not even a word at all. Teman-teman mentertawakan saya. Oya, kebiasaan buruk saya, datang terlambat  Pasti tiap pagi saya masuk kelas tepat pukul 7, tidak pernah mengerjakan PR apalagi kalau matematika. Jadi begitu sampai kelas tergopoh-gopoh, saya lalu merepotkan teman sebangku namanya Lita Andini. Saya pinjam PR dia, hehe…. Lita sering saya buat marah. Dimana ya dia sekarang? Satu hal yang paling saya sebal adalah olahraga khususnya senam. Kenapa? Karena saya paling tidak bisa salto ke belakang. Saya selalu stucked sampai berdiri di atas kepala saja dan sulit untuk menjungkirkan badan ke belakang dalam keadaan seperti itu. Saat ujian akhir, salah satu materi senam yang harus lolos adalah salto ke belakang itu. Semua teman-teman saya berhasil melakukannya, sedangkan saya harus diberi jam tambahan oleh guru olahraga. Jadi ketika teman-teman sudah asyik menikmati jajanan di kantin setelah ujian itu, saya masih jungkir jempalitan di ruang olahraga! Tahu apa hasilnya?
Guru saya bertanya , “Kamu ikut ekskul apa sih?”
“ Musik.”
“Pegang apa di musik?”
“Suling, pak.”
“Oh, pantesan kamu cuma bisa lurus berdiri di atas kepala dan nggak bisa berguling ke belakang.”
“Sialan,” umpat saya.
Oya, di kelas 3 SMP rekor saya pecah. Apa itu? Memotong rambut! Ya, rambut panjang yang sudah dipelihara sejak lahir, TK, SD sampai SMP saya putuskan untuk di-po-tong.
Masa SMA. Ini adalah masa saya paling bandel, bebal dan keras kepala (yang terakhir ini sampai sekarang masih hehe…). Keaktifan saya di organisasi semakin banyak. Selain masih tekun di GEMA -karena GEMA itulah saya jadi sedikit beken karena dikenal teman-teman suka nulis di koran BERNAS- maka saya dipercaya mengelola mading sekolah, saya bergabung dengan OSIS, organisasi keagamaan seperti PSK (Persekutuan Siswa Kristen), menggelar event rohani seperti natal dan paskah di sekolah maupun bersama sekolah lainnya. Saya masih juga tidak punya pacar. Catatan : saya tidak lagi ikut baris berbaris karena di masa SMA, justru saya paling pendek. Hehe…Saya sudah mulai suka melirik cowok. Kriterianya, tinggi, suka main basket, bergaya pemimpin, aktivis di sekolah, bisa musik. Dan itu semua ada di Ketua OSIS!! Haha…tapi ya kami beda prinsip dan itu saya pegang teguh daripada nantinya malah kepentok (sok ke depan banget pikirannya yak..).Anehnya, saya tetap tidak suka cowok (terutama yang nggak saya sukai) naksir saya. Beberapa kali teman cowok bertandang ke rumah, saya cuekin. Bahkan ada yang datang baru parkir motor, saya sudah wanti-wanti ke ibu untuk bilang saya nggak ada. Padahal saya sembunyi di kamar. Ibu selalu berbohong untuk ‘menyelamatkan’ saya. Dia hanya tertawa melihat ini.
Saya juga suka pulang larut malam. Saya kan hobi banget nonton konser musik di mana-mana. Pernah suatu kali, saya nggak pamit nonton konser sama dua teman saya. Lokasi konser lumayan dekat tapi kalau jalan kaki udah telat. Akhirnya kami naik becak. Sialnya kami, becak diserempet motor berkecepatan tinggi dari sebelah kanan dan tuiiing si becak pun bermanuver entah bagaimana bentuknya tahu-tahu saya udah ada di posisi paling bawah tertindih 2 teman saya itu. Becaknya jadi penyok dan saya pun memar-memar. Tapi kami masih juga bersikeras nonton konser hingga larut malam dan saya kena marah ibu ketika sampai rumah.
Saya berjanji pada ibu tidak lagi pulang malam. Tapi janji itu tidak kekal, cuma bertahan 2 minggu. Setelah itu kumat lagi. Kali ini karena keasyikan dengan hobi menulis di GEMA. Biasanya hari Jumat-Sabtu, saya gunakan di markas GEMA kongkow-kongkow dengan teman-teman setelah seharian mengerjakan halaman khusus pelajar itu dan saya suka lupa waktu. Tak jarang saya masih pakai seragam sekolah ketika pulang dari markas sekitar jam 9 malam. Biasanya saya mengendap-endap supaya tidak ketauan ibu. Tapi pernah ketika mengendap-endap eh nggak taunya mereka sedang berkumpul bersama di ruang keluarga, lagi berdoa! (doain saya yang bandel ini). Merasa berdosa sekali saya. Yang bikin berang orang tua ketika satu malam saya pulang sudah hampir jam 12 malam! Saya keasyikan meliput acara bersama artis ibukota kala itu. Berjalan di gang menuju rumah ternyata sudah dijaga oleh para peronda. Aduh… muka saya mau ditaruh dimana? Tatapan mereka sangat sadis seakan menyimpulkan saya yang tidak-tidak. Aduh…maaf bapak dan ibu….
Kebandelan saya yang bertubi-tubi dan tak bisa dikendalikan itu akhirnya terbalas. Masa menjadi mahasiswa. Saya harus memutuskan menerima kenyataan untuk ‘dijauhkan’ dari orang-orang terkasih. Pasalnya saya diterima melalui jalur non-tes di universitas negeri di Solo. Memang kota ini lumayan dekat dengan Yogya tapi rasanya berat meninggalkan keluarga, meskipun akhirnya setiap minggu sekali saya pulang juga. Awal-awal menjadi perantau di kota Solo sangat menggelikan kalau diingat-ingat. Kebiasaan saya waktu itu adalah terserang sindrom jam 5 sore. Apakah itu? Maklum baru sekali ini jadi anak kos dan jauh dari ayah-ibu. Jadi kata orang Jawa “mbok-mboken”. Setiap menjelang jam 5 sore, saya selalu menangis berurai-urai air mata. Saya gelisah dan takut. Untuk menghibur diri, saya pergi ke rumah teman di kos sebelah. Apa yang terjadi? Ternyata teman saya itu (yang juga baru pertama kali ngekos) juga sedang menangis! Haha…jadilah kami bertangis-tangisan di kamarnya. Begitulah setiap sore hampir selama 3 bulan pertama di Solo, saya selalu bertandang ke kos teman saya itu. Akhirnya kami berdua nggak jadi nangis bersama tetapi berbincang-bincang dan ini cukup lumayan membantu kami melupakan sejenak perasaan melo itu.
Di Solo kegiatan organisasi saya mulai terpangkas lambat laun. Saya merasa iklimnya beda jauh dengan Yogya, cenderung bikin malas melakukan apapun. Hanya saya masih aktif di PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) di tingkat fakultas maupun universitas. Saya punya 3 teman karib yang sama-sama aktif di PMK. Saking akrabnya, kami memberi julukan geng kami Empat Menguak Takdir (plesetan dari julukan bagi Sutan takdir Alisjabana cs “Tiga Menguak Takdir). Di fakultas, saya tidak terlalu menonjol. Tadinya ikutan kegiatan KineKlub bagi penggemar film-film tapi berhenti karena malas ikut kegiatan tambahannya semacam diskusi dan panitia-panitia gitu. Saya cuma senang nontonnya doang. Di masa inilah, pada semester 3, akhirnya saya tunduk pada panah asmara. Saya ketemu cowok dan memutuskan berpacaran. Rupanya cowok itu datang tepat waktunya. Karena selang sebulan saya pacaran, saya harus kehilangan ibunda saya terkasih karena penyakit jantungnya (kalau ingat kebandelan saya di masa lalu, saya sering menyesal mungkinkah saya yang menyebabkan penyakit jantung ibu kambuh lagi?). Saya betul-betul kehilangan motivasi dan pegangan. Dunia rasanya gelap, rasa melo yang sudah terkubur jauh kembali muncul. Sejak kepergiannya, saya suka menyendiri. Kemana pun. Tetapi kekasih saya itu sangat pengertian dan setia. Dia tidak suka menggurui. Dia hanya memberikan sebuah buku tentang bagaimana menyikapi kehilangan seseorang. Rupanya dia juga membacanya ketika harus kehilangan ayah-ibunya dalam waktu berdekatan. Begitulah, Tuhan selalu tepat mendatangkan pertolongan. Tepat maksudnya dan tepat waktu-Nya.
Kuliah saya cenderung mulus sampai akhirnya lulus tahun 2002 sebagai sarjana sosial. Usai kuliah, saya bekerja di sebuah dealer motor di Yogya dan hanya selang 3 bulan setelah bekerja itu saya mendapat pekerjaan yang lebih baik di kota Salatiga. Kini saya masih di Salatiga, bekerja sebagai Asisten Dirlak di sebuah LSM berbasis gereja. Saya masih berpacaran dengan kekasih saya yang dulu. Tujuh tahun sudah kami menjalani masa pacaran dan bila Tuhan mengijinkan, kami akan berjanji sehidup semati di depan altar Tuhan pada bulan Juli 2007 nanti.
Pada waktu dan masa, terima kasih atas kenangan yang kau toreh di memoriku. Buat ayah dan ibu, terima kasih telah menjadi pelakon utama yang mengisi diari hidupku. Sekarang saya harus siap menjalani etape selanjutnya dari episode kehidupan ini. Semoga Tuhan menolong saya. (to be continued).

Friday, March 16, 2007

Everyday Is A Blessing

Ketika kita memperhatikan hal-hal kecil yang sederhana di sekeliling kita, tanpa disangka-sangka hal-hal itu memberi pelajaran dan inspirasi hingga kita bisa berucap hidup hari ini adalah sebuah berkat. Percaya nggak?
Setiap pagi, ketika bangun tidur saya selalu tidak merasa segar. Malas sekali beranjak. Biasanya saya tidur lagi. Sampai setengah jam sebelum jam kantor baru deh saya siap-siap. Pokoknya kacau deh. Sampai kantor, baru jam 10 aja udah nguap, ngantuk. Dan itu berlangsung berulang-ulang selama 3 tahun kerja. Teman-teman kos juga bilang penampilan saya tiap pagi nggak segar dipandang mata. Ini baru saya sadari! Ternyata teman-teman di kos memperhatikan saya. Soalnya saya biasa pergi pagi pulang sore atau malam (bukan karena lembur tapi karena main game di komputer dulu!) dan kebanyakan waktu malam hari saya habiskan di kamar. Kadang-kadang temen kos bertandang ke kamar terus ngobrol sampai saya ngantuk. Terus tidur, terus bangun lagi, ngantor lagi, pulang, di kamar, tidur, bangun, dan seterusnya. Rasanya irama hidup dan aktivitas saya seperti kaset yang diputar dari side A ke B, B ke A, terus begitu dan parahnya isi lagunya sama!
Jadi hari-hari biasa saya lalui dengan banyak de javu. Kayaknya kemarin saya udah pernah melakukan ini atau eh kayaknya aku pernah baca itu. Apalagi penampilan, aduh itu jadi prioritas kesekian deh. Hem atau T-Shir plus celana jins, sepatu kets, cukup. Saya nggak pernah mikiin orang lain mau perhatikan atau tidak, cuek aja. Yang penting saya nyaman. Yang penting saya, saya, saya, dan saya. Ehm...self oriented banget deh.
Ini terjadi terus hingga suatu pagi. Saat itu seperti biasa, saya bangun ngaret, badan rasanya tidak segar sudah biasa. Nggak pake babibu, langsung loncat dari dipan, ambil perlengkapan mandi, ngloyor ke kamar mandi, pake pakaian, terus memakai bedak (tipis banget) dan lipgloss! Saya suka risih lihat cewek berdandan. Pas mau berangkat, saya ambil jam tangan, eh, apa nggak salah lihat? Kok baru jam setengah delapan (saya ngantor start jam 9). Ya ampun, karena buru-buru, saya pikir kesiangan bangun ternyata pagi itu saya justru terlalu awal bangun (dari hari biasanya).
Iseng-iseng buat ngisi waktu, saya ambil kamera di handphone saya, terus potret-potret diri deh (narsis banget yak?). Semua gaya sudah saya coba, rambut diurai tak ketinggalan. Ceprat cepret berulang kali. Kini giliran saya lihat hasil pemotretan. “Oh no!! Is that really me?!! Kok nggak ada yang bagus dari angel manapun?!” teriak hati saya. Oke, barangkali dengan mengubah gaya rambut. Rambut saya cepit ke belakang, poni dibelah pinggir kanan (biasanya tengah!), pake senyum, sisi kanan, kiri dan depan. Sudah. Sekarang lihat lagi hasilnya. Dan.....nggak bisa dikomentari deh. Saya sendiri kaget melihat look saya. Bawah mata ada lingkaran hitam, senyum terasa dipaksakan, yang paling ngeri adalah sorot mata saya betul-betul tidak menyala! Sekali lagi saya nggak nyerah, mungkin ini perasaan saya aja. Lagi, saya ambil kamera, kali ini saya khususkan menembak daerah wajah, full face, close-up. Cepret..cepret...berapa kali. Hasilnya....oh no!!! Lagi-lagi. Kini saya mulai melihat ada garis di sekitar hidung dan mulut. Saya seperti dimake-up tapi ketika siang, make-up di wajah itu pecah dan guratan make up membentu garis. Aduh saya aging!! Wajah saya seperti tertarik ke bawah, biar pun pasang senyum, tidak ada yang istimewa.
Oh rupanya begitu ya penampilan saya yang tampak luar dan dilihat orang? Pantes aja mereka bilang I’m not fresh at all! Saya aja males lihatnya, apalagi orang lain ya? Hehe... tapi cerita belum selesai. Pas mau berangkat kerja, 15 menit sebelumnya saya makan dulu ceritanya di warung langganan. Ketika mengantre ambil sayur, di depan saya ada seorang ibu dan seorang bapak tua. Si ibu lagi nyiduk sayur dalam plastik untuk dibawa pulang kira-kira. Si bapak menunggui di sebelahnya. Saya sabar menunggu di belakang si ibu. Ibu itu menyangul rambutnya ke belakang dengan semacam sumpit yang ada gantungannya. Memakai anting. Nggak ada pikiran apapun, sampai si ibu itu menengok ke belakang ke arah saya. “Halo, silakan ambil nak. Maaf menutupi ya?, “ katanya sambil tersenyum dan menggeser posisinya agar saya bisa maju. Begitu saya tatap wajah si ibu itu, nggak tahu kenapa hati saya ngrasa damai banget. “Silakan ini sendoknya,” ujarnya lagi pada saya. Ya ampun, saya kembali lihat wajah si ibu itu. Wow! So brightful. Saya tidak merasakan ada nada basa-basi di situ. Ada gurat dan garis memenuhi wajahnya tetapi tutur sapa, senyum dan nada bicaranya..wow!! Ibu itu tampak sangat cantik sekali di usia senjanya. Ketika saya makan, mereka (ibu dan bapak tua yang kira-kira suaminya) melangkah keluar sambil berujar lagi, “Mari nak...,” lagi-lagi sambil tersenyum dan ia menggandeng suaminya itu. God! Is she YOU?
Saya merasa ditampar dua kali pagi itu. Hei! Menjaga penampilan secantik dan sebagus mungkin itu sah-sah saja dan tidak pernah merugikan orang lain. Menegor orang dengan ramah dan menjaga attitude, juga nggak bakal merugikan saya. Ketika saya berpikir tentang diri saya sendiri, apa yang enak dan nyaman buat saya sendiri, ternyata membuat saya menjadi individu paling egois. Saya ngerasa sendiri, ketika si ibu yang sudah tua itu tersenyum pada saya, saya merasakan ada energi yang membuat saya damai. Kenapa saya tidak bisa begitu? Dengan senyum dan tutur kata serta didukung penampilannya yang sederhana tetapi tertata, si ibu tua itu tampak sangat cantik dan mata saya suka melihatnya.
Hari itu si ibu menjadi berkat untuk saya. Saya jadi sadar apa yang saya lakui tiap hari yang sudah seperti kaset side A dan B atau de javu itu, ternyata akibat ulah saya sendiri. Saya tidak mencoba membuat sesuatu yang baru setiap hari. Bangun siang, nggak ada streching atau olah tubuh yang bisa bikin saya lebih segar. Pikiran saya pun stucked pada rutinitas yang jadi membosankan. Apalagi penampilan, ah capek deh...
Mulai hari itu, saya mencoba bertekad mengubah gaya hidup yang acak adul. Saya mulai coba bangun lebih pagi, sebelum mandi paling 15 menit gerak badan dulu atau latihan yoga sesuai petunjuk buku. Terus ya, penampilan meskipun masih pakai hem atau T-Shirt dan jins, paling tidak make-up saya tambah sedikit sana-sini (di atas jam 12 siang udah hilang hehe...ya kan masih dalam proses mencoba!). Yang tadinya polos-polos aja, saya mulai pakai aksesoris seperti kalung dan gelang imitasi. Saya juga usahakan pulang kantor tepat waktu dan yang penting sampai di kos, saya sisihkan beberapa jam untuk ngobrol dengan teman kos. Dari situ saya belajar mendengar. Suer sulit banget! Kadang kita terbiasa untuk didengar sih. Saya juga lagi belajar bersikap tulus. Ini juga sulit banget, kadang ketika senyum atau tertawa, meskipun saya yakinkan kalau itu tulus tapi mulut ini ternyata capek. Pertanda nggak tulus kan? Tapi saya tetap berusaha!
Itulah kenapa saya bilang setiap hari itu berkat. Dari hal kecil dan tampak sepele, kalau dilakukan dengan tulus, bisa berdampak buat orang lain. Saya yakin, hari ini saya ada bukan karena kebetulan saja, tetapi hari ini memang sudah dirancang untuk saya agar saya menjadi berkat juga. Tinggal gimana saya peka aja. Kayak seruan teman-teman kos saya suatu hari ketika akan berangkat kantor.
“Cie...tumben nih good looking!” Ehm...ternyata kalau orang lain ikut senang, saya pun merasa ‘different’. I feel the energy to live forward...